Kanker Paru, Mengapa Sulit Terdeteksi?

Kompas.com - 21/11/2017, 12:18 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorYunanto Wiji Utomo

SINGAPURA, KOMPAS.comKanker paru-paru menjadi penyakit yang paling sering dialami oleh masyarakat dunia. Orgaisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, pada tahun 2015 terdapat hampir 1,7 juta orang yang didiagnosis kanker paru-paru.

Data World Cancer Research Fund menyebutkan, terdapat 1,59 juta orang yang meninggal setiap tahunnya akibat kanker paru-paru. Dari jumlah itu, hampir setengahnya terjadi di negara berkembang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Kondisinya pun tak lebih baik. Dr. Sita Andarini, PhD, SpP(K) mengatakan, pengidap kanker paru-paru terus bertambah. Hal ini misalnya terlihat dari jumlah pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan.

Pada 2010, jumlah pasien rawat jalan sebanyak 581 orang dan meningkat 1355 pada tahun 2014. Begitu juga pada pasien yang menjalani rawat inap di RSUP Persahabatan. Sebanyak 273 pasien menjalani rawat inap dan meningkat tajam menjadi 938 pada tahun 2009.

Baca Juga : Imunoterapi untuk Kanker Paru Kini Tersedia di Indonesia

“Pada tahun 2016 ada sekitar 1.500 orang. Jumlahnya naik sekitar lima kali lipat dibandingkan dengan lima tahun lalu,” kata Sita di sela acara Eropean Society for Medical Oncology (ESMO) Asia 2017, Suntec Convention Center, Singapura, Jumat (18/11/2017).

Sita menuturkan, lebih dari 90 persen pasien yang datang ke rumah sakit telah masuk pada stadium empat. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh sulitnya mendeteksi kanker paru-paru dibandingkan dengan kanker lainnya.

Kanker payudara misalnya, deteksi dini dapat dilakukan melalui program Periksa Payudara Sendiri (Sadari). Pasien dapat memeriksa perubahan fisik pada payudara dengan menggunakan tangan dan penglihatan.

Lalu, pada kanker serviks, pemeriksaan dini bisa dilakukan dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Keberadaan kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) ini bisa diketahui langsung setelah tes dilakukan.

“Tapi kanker paru-paru agak sulit. Dengan foto thorax pun tidak bisa mendeteksi secara dini, kecuali kalau sudah stadium 4,” kata Sita.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Fenomena
Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac 'Aman'

Data Uji Klinis 1 Bulan Tunjukkan Vaksin Covid-19 Sinovac "Aman"

Fenomena
BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

BMKG: Waspada Potensi Cuaca Ekstrem 2 Hari Ini, Berikut Daftar Wilayahnya

Fenomena
Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Kasus Covid-19 Global Tembus 60 Juta, Bagaimana Islandia Kendalikan Virus Corona dengan Sains?

Fenomena
Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Jaga Imunitas, 5 Suplemen dan Vitamin untuk Ibu Hamil di Masa Covid-19

Oh Begitu
2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

2 Buku Teori Evolusi Charles Darwin Hilang dari Perpustakaan Cambridge

Oh Begitu
Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Langka, Ahli Temukan Burung Era Dinosaurus dengan Paruh Mirip Sabit

Oh Begitu
Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Jokowi Minta Libur Akhir Tahun Dikurangi, Epidemiolog Sarankan Ini

Oh Begitu
Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Evolusi Virus Bisa Gagalkan Vaksin Covid-19, Ini Cara Menghentikannya

Oh Begitu
Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Masih Sepupu Manusia, Ditemukan Kerangka Manusia Purba Berusia 2 Juta Tahun

Fenomena
Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Gejala Kanker Mulut Mirip Sariawan, Begini Cara Mencegahnya

Kita
Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Lonjakan Kasus Covid-19 Diprediksi Tinggi, Ini Strategi Hadapi Rumah Sakit Penuh

Oh Begitu
Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Mitos atau Fakta: Seledri Tingkatkan Kesehatan Seksual Pria

Kita
Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Studi Baru: Mutasi Tak Membuat Virus Corona Menyebar Lebih Cepat

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X