Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kanker Paru, Mengapa Sulit Terdeteksi?

Data World Cancer Research Fund menyebutkan, terdapat 1,59 juta orang yang meninggal setiap tahunnya akibat kanker paru-paru. Dari jumlah itu, hampir setengahnya terjadi di negara berkembang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Kondisinya pun tak lebih baik. Dr. Sita Andarini, PhD, SpP(K) mengatakan, pengidap kanker paru-paru terus bertambah. Hal ini misalnya terlihat dari jumlah pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan.

Pada 2010, jumlah pasien rawat jalan sebanyak 581 orang dan meningkat 1355 pada tahun 2014. Begitu juga pada pasien yang menjalani rawat inap di RSUP Persahabatan. Sebanyak 273 pasien menjalani rawat inap dan meningkat tajam menjadi 938 pada tahun 2009.

Baca Juga : Imunoterapi untuk Kanker Paru Kini Tersedia di Indonesia

“Pada tahun 2016 ada sekitar 1.500 orang. Jumlahnya naik sekitar lima kali lipat dibandingkan dengan lima tahun lalu,” kata Sita di sela acara Eropean Society for Medical Oncology (ESMO) Asia 2017, Suntec Convention Center, Singapura, Jumat (18/11/2017).

Sita menuturkan, lebih dari 90 persen pasien yang datang ke rumah sakit telah masuk pada stadium empat. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh sulitnya mendeteksi kanker paru-paru dibandingkan dengan kanker lainnya.

Kanker payudara misalnya, deteksi dini dapat dilakukan melalui program Periksa Payudara Sendiri (Sadari). Pasien dapat memeriksa perubahan fisik pada payudara dengan menggunakan tangan dan penglihatan.

Lalu, pada kanker serviks, pemeriksaan dini bisa dilakukan dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Keberadaan kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) ini bisa diketahui langsung setelah tes dilakukan.

“Tapi kanker paru-paru agak sulit. Dengan foto thorax pun tidak bisa mendeteksi secara dini, kecuali kalau sudah stadium 4,” kata Sita.

Baca Juga : Mengapa Angka Kesembuhan Pasien Kanker Paru Rendah?

Selain itu, paru-paru tidak memiliki saraf yang dapat menyebabkan pasien merasakan sakit. Rasa sakit hanya timbul bila kanker telah menyebar ke lapisan pleura, lapisan tipis yang menutupi paru-paru. Dalam kondisi ini, pasien telah masuk ke dalam stadium 4a.

“Low dose CT Scan (LDCT) hanya menurunkan sedikit sekali mortalitas. Jadi apakah itu bermakna baik, secara cost effective apa tidak, masih banyak perdebatan,” kata Sita.

Sita menuturkan, faktor risiko kanker paru-paru antara lain disebabkan oleh merokok dan riwayat kanker pada keluarga pasien. Paparan asap rokok pada perempuan juga mengakibatkan naiknya risiko potensi terkena kanker paru-paru.

Menurut Sita, merokok menjadi faktor risiko kanker paru-paru terbesar, yakni 80 persen. Dari 648 pasien di RSUP Persahabatan dalam rentang waktu 2004-2006, yakni 75,5 persen laki-laki dan 24,5 persen perempuan, pesien kanker paru-paru yang merokok sebesar 83,6 persen untuk laki-laki dan 43,4 persen adalah perempuan.

“Batuk sudah kemana-mana itu harap curiga kanker paru, harap diperiksa. Atau misalnya ada keluhan respirasi yang berkepanjangan,” kata Sita.

Meski demikian, prevalensi perokok di Indonesi terus meningkat. WHO mecatat sebanyak 69 persen orang dewasa di Indonesia merupakan perokok pada 2003. Jumlah itu diperkirakan naik sebesar 79,9 persen pada tahun 2025.

Baca Juga : Mengapa Tak Semua Perokok Sakit Kanker Paru?

https://sains.kompas.com/read/2017/11/21/121810423/kanker-paru-mengapa-sulit-terdeteksi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke