Kompas.com - 20/11/2017, 21:04 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Sekelompok sejarawan dan pakar ekonomi telah berhasil menerjemahkan 12.000 lempeng (tablet) tanah liat berusia 4.000 tahun dari Zaman Perunggu dan mengidentifikasikan lokasi dari kota-kota kuno yang hilang.

Lempeng-lempeng yang digali dari kota kuno Ganesh, kini berada di Turki, ini ditulis dalam huruf paku atau kuneiform oleh para pedagang dari kerajaan Asyur.

Sebetulnya, mereka hanya berisi transaksi bisnis, dokumen pengiriman, dan berbagai kontrak, termasuk sertifikat pernikahan.

Namun, pengajar Universitas Harvard, Gojko Barjamovic, dan tiga orang pakar ekonomi lainnya percaya bahwa mereka juga dapat mengekstraksi informasi mengenai kota-kota yang hilang dari lempeng-lempeng tersebut.

Baca juga : Berusia 3.700 Tahun, Inilah Tabel Trigonometri Paling Tua dan Akurat

Pasalnya, 12.000 lempeng tersebut menjelaskan mengenai ratusan interaksi dagang dari 26 kota kuno yang 15 di antaranya telah ditemukan, dan hubungan dagang ini sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis karena barang-barang yang dijual hanya dapat dipindahkan melalui jalan darat.

Artinya, kota yang berdekatan memiliki lebih banyak transaksi dibandingkan kota yang berjauhan.

Menggunakan data-data tersebut, Barjamovic dan tiga koleganya menciptakan sebuah sistem yang disebut “Model Gravitasi Struktural”. Sistem ini mengalkulasikan jarak antar kota berdasarkan jumlah transaksinya dan mengestimasikan lokasi dari 11 kota yang hilang.

Ilustrasi perkiraan lokasi DurhusnitWashington Post Ilustrasi perkiraan lokasi Durhusnit

Hasil tersebut kemudian dikonsultasikan dengan para sejarawan.

Dalam studi yang dipublikasikan melalui The National Bureau of Economic Research, Barjamovic dan kolega menulis, untuk mayoritas dari kota yang hilang, estimasi kuantitatif kami sangat mirip dengan dugaan kualitatif dari para sejarawan, (hal ini) menguatkan model sejarah dan metode kuantitatif kami.

Mereka melanjutkan, dalam beberapa kasus di mana sejarawan tidak dapat mencapai konsensus di mana lokasi kota yang hilang, metode kuantitatif kami mendukung dugaan dari beberapa sejarawan dan melawan lainnya.

Meski demikian, Barjamovic dan kolega mengakui bahwa lokasi yang dituliskan dalam studi baru dugaan saja. Pembuktiannya hanya bisa dilakukan ketika kota-kota tersebut benar-benar ditemukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.