Lempeng 4.000 Tahun Ungkap Lokasi 11 Kota Kuno Asyur yang Hilang

Kompas.com - 20/11/2017, 21:04 WIB
Lempeng dengan tulisan kuneiform dari Anatolia (1875-1840 SM) Los Angeles County Museum of ArtLempeng dengan tulisan kuneiform dari Anatolia (1875-1840 SM)
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Sekelompok sejarawan dan pakar ekonomi telah berhasil menerjemahkan 12.000 lempeng (tablet) tanah liat berusia 4.000 tahun dari Zaman Perunggu dan mengidentifikasikan lokasi dari kota-kota kuno yang hilang.

Lempeng-lempeng yang digali dari kota kuno Ganesh, kini berada di Turki, ini ditulis dalam huruf paku atau kuneiform oleh para pedagang dari kerajaan Asyur.

Sebetulnya, mereka hanya berisi transaksi bisnis, dokumen pengiriman, dan berbagai kontrak, termasuk sertifikat pernikahan.

Namun, pengajar Universitas Harvard, Gojko Barjamovic, dan tiga orang pakar ekonomi lainnya percaya bahwa mereka juga dapat mengekstraksi informasi mengenai kota-kota yang hilang dari lempeng-lempeng tersebut.

Baca juga : Berusia 3.700 Tahun, Inilah Tabel Trigonometri Paling Tua dan Akurat

Pasalnya, 12.000 lempeng tersebut menjelaskan mengenai ratusan interaksi dagang dari 26 kota kuno yang 15 di antaranya telah ditemukan, dan hubungan dagang ini sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis karena barang-barang yang dijual hanya dapat dipindahkan melalui jalan darat.

Artinya, kota yang berdekatan memiliki lebih banyak transaksi dibandingkan kota yang berjauhan.

Menggunakan data-data tersebut, Barjamovic dan tiga koleganya menciptakan sebuah sistem yang disebut “Model Gravitasi Struktural”. Sistem ini mengalkulasikan jarak antar kota berdasarkan jumlah transaksinya dan mengestimasikan lokasi dari 11 kota yang hilang.

Ilustrasi perkiraan lokasi DurhusnitWashington Post Ilustrasi perkiraan lokasi Durhusnit

Hasil tersebut kemudian dikonsultasikan dengan para sejarawan.

Dalam studi yang dipublikasikan melalui The National Bureau of Economic Research, Barjamovic dan kolega menulis, untuk mayoritas dari kota yang hilang, estimasi kuantitatif kami sangat mirip dengan dugaan kualitatif dari para sejarawan, (hal ini) menguatkan model sejarah dan metode kuantitatif kami.

Mereka melanjutkan, dalam beberapa kasus di mana sejarawan tidak dapat mencapai konsensus di mana lokasi kota yang hilang, metode kuantitatif kami mendukung dugaan dari beberapa sejarawan dan melawan lainnya.

Meski demikian, Barjamovic dan kolega mengakui bahwa lokasi yang dituliskan dalam studi baru dugaan saja. Pembuktiannya hanya bisa dilakukan ketika kota-kota tersebut benar-benar ditemukan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X