Katalis Super Tercipta, Bisa Ubah Gas Rumah Kaca Jadi Zat Berharga

Kompas.com - 20/11/2017, 20:17 WIB
Ilustrasi. ShutterstockIlustrasi.
|
EditorGloria Setyvani Putri

KOMPAS.com -- Masalah perubahan iklim saat ini terus menerus menjadi pembahasan para ilmuwan.

Menurut laporan Global Carbon Project, penambahan emisi CO2 secara global akan meningkat pada 2017. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam kurun waktu empat tahun terakhir karena biasanya, produksi karbon tumbuh rata-rata tiga persen setiap tahun sejak 2006.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh Applied Catalysis B: Environmental, para ilmuwan dari University of Surrey menjelaskan bagaimana mereka membuat katalis super berbasis nikel yang diperkuat dengan timah dan ceria (ceric oxide, CeO2).

Katalis tersebut digunakan untuk mengubah karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), dua penyebab utama perubahan iklim, menjadi gas sintesis yang dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar dan berbagai senayawa kimia berharga.

Baca juga: Susah Tidur? Kemungkinan Besar karena Perubahan Iklim

Prinsip dasar modifikasi CO2 adalah menangkap CO2 dan menyimpannya dalam akuifer air garam. Sebagai alternatif, CO2 dapat diubah menjadi produk berharga melalui reaksi katalitik.

Di antara produk yang berbeda, syngas adalah salah satu yang paling disukai karena merupakan perantara utama beberapa industri, seperti produksi metanol dan banyak bahan kimia komoditas lainnya.

Syngas atau nama lain gas sintetis merupakan campuran gas dari hidrogen, karbon dioksida, dan karbon monosikda.

Rute produksi syngas yang paling banyak dipraktikkan adalah steam reforming (SRM). Namun, proses ini memerlukan suhu tinggi (biasanya di atas 800-900 ° C) dan sejumlah besar uap untuk melanjutkan.

Baca juga: Emisi Karbon Tahun 2017 Diprediksi Akan Pecahkan Rekor

Sementara itu, teknologi penangkapan karbon pada umumya tergolong mahal dan memerlukan kondisi yang ekstrim dan tepat agar prosesnya berhasil.

Katalis baru ini diharapkan akan membantu membuat teknologi ini semakin banyak tersedia di seluruh industri, dan membuat karbon lebih mudah dan murah untuk diekstraksi dari atmosfer.

"Ini adalah proyek yang sangat menarik dan kami yakin telah mencapai sesuatu yang dapat memberi dampak nyata pada emisi CO2," kata Dr Tomas R. Reina dari Universitas Surrey, dikutip dari Sciencedaily, Jumat (17/11/2017).

"Tujuan kita semua adalah mendorong ilmuwan iklim untuk membalikkan dampak gas berbahaya di atmosfer kita. Teknologi mampu menganalisa bahwa gas-gas berbahaya tersebut tidak hanya dikeluarkan, tetapi bisa diubah menjadi bahan bakar terbarukan dan digunakan di negara-negara miskin. Ini seperti 'harta karun' untuk ilmu iklim," tambahnya.

Kini, University of Surrey sedang mencari mitra yang tepat untuk menggunakan teknologi tersebut. Mereka juga berencana mengajukan hak paten untuk daur ulang CO2 kimia tersebut.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X