Kompas.com - 13/11/2017, 18:00 WIB
Gajah jarang terkena kanker karena sel-selnya melakukan bunuh diri saat ada petunjuk pertama adanya kelainan. Mereka mengandalkan LIF6, sepotong gen bekas yang mengembangkan fungsi baru. Gajah jarang terkena kanker karena sel-selnya melakukan bunuh diri saat ada petunjuk pertama adanya kelainan. Mereka mengandalkan LIF6, sepotong gen bekas yang mengembangkan fungsi baru.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

Pada 2015, Joshua Schiffman dari Universitas Pendidikan Kesehatan Utah dan Carlo Maley dari Universitas Arizona, Amerika Serikat memimpin penelitian yang menunjukkan bahwa genom gajah memiliki 20 duplikat ekstra gen p53 (disebut juga guardian angel gene karena peran proteinnya dalam menjaga sel dari mutasi genetik akibat kerusakan DNA, red).

Dari penelitian tersebut mereka mengatakan salinan tambahan p53 berkorelasi dengan kemampuan gajah meningkatkan risiko terkena kanker.

Vincent Lynch, ahli genetika dari Universitas Chicago juga penasaran akan hal ini. Dia membuktikan, salinan tambahan p53 bukan satu-satunya pelindung dari kanker yang dimiliki gajah.

Baca Juga: Kematian Gajah di Aceh Terindikasi Disengaja

Dia membuktikan bahwa gajah dan kerabat mereka yang lebih kecil (seperti gyraxes, armadillo, dan aardvarks) juga memiliki salinan duplikat gen LIF (leukimia inhibitory factor) yang dapat mencegah leukimia. Protein ini biasanya terlibat dalam kesuburan dan reproduksi untuk merangsang pertumbuhan sel induk embrio.

Penelitian yang sudah dipresentasikan dalam Pan-American Society for Evolutionary Developmental Biology di Calgary, Amerika Serikat pada bulan Agustus 2017 dan sudah dipublikasikan di biorxiv.org itu menemukan ada 11 duplikat LIF yang berbeda satu sama lain, tapi semuanya belum lengkap.

Maksudnya, semua genom tersebut tidak memiliki informasi blok awal dari protein-encoding untuk mengatur aktivitas gen. Hal ini membuat Lynch berpendapat bahwa tidak ada duplikat yang dapat melakukan fungsi normal gen LIF.

Namun, saat Lynch meneliti selnya lagi, dia menemukan turunan RNA. Setidaknya salah satu duplikat bernama LIF6, memiliki urutan promotor di suatu tempat untuk dapat mengakifkannya.

Memang, Lynch dan koleganya menemukan beberapa ribu basis hulu LIF6 di genom yang memiliki urutan DNA mirip seperti protein p53. Dari sini mereka menduga bahwa protein p53 (p53 tidak memiliki duplikat) berfungsi untuk mengatur LIF6.

Untuk mengetahui fungsi LIF6, peneliti memblokir aktivitas gen yang menyebabkan sel-sel tersebut merusak kondisi DNA. Hasilnya, sel-sel menghancurkan diri melalui proses apoptosis (kematian sel terprogram), hal yang juga sering digunakan makhluk hidup sebagai sistem kontrol untuk menghilangkan jaringan yang rusak. Dari percobaan itu, menunjukkan LIF6 berfungsi untuk membasmi sel-sel yang berpotensi ganas.

"Percobaan lebih lanjut menunjukkan LIF6 memicu kematian sel dengan menciptakan kebocoran di membran sekitar mitokondria, organel penghasil energi vital sel," kata Lynch.

Baca Juga: Apa yang Harus Anda Lakukan untuk Memindahkan 500 Gajah?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.