Kompas.com - 13/11/2017, 18:00 WIB
Mahout dari Elephant Response Unit (ERU) sedang memandikan gajah di Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Senin (29/7/2017). Gajah-gajah di Elephant Response Unit (ERU) telah jinak dan sudah dilatih untuk membantu manusia, salah satu kontribusi gajah-gajah ini adalah membantu mendamaikan jika terjadi konflik manusia dengan gajah-gajah liar. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGMahout dari Elephant Response Unit (ERU) sedang memandikan gajah di Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Senin (29/7/2017). Gajah-gajah di Elephant Response Unit (ERU) telah jinak dan sudah dilatih untuk membantu manusia, salah satu kontribusi gajah-gajah ini adalah membantu mendamaikan jika terjadi konflik manusia dengan gajah-gajah liar.
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com - Mungkin, Anda berpendapat bahwa hewan dengan tubuh besar dan berumur panjang, memiliki risiko lebih besar terkena kanker. Sayangnya hal itu salah.

Menurut data statistik, gajah dan hewan besar lainnya memiliki kesempatan terkena kanker lebih kecil. Sebab, mereka sudah berevolusi untuk melindungi diri dari kanker.

Sebuah penelitian terbaru mengonfirmasi hal ini dan memperlihatkan bagaimana si belalai panjang itu melakukannya.

Dalam penelitian tersebut, terungkap bahwa ternyata gen tua dari tubuh gajah yang tidak lagi berfungsi, didaur ulang dari 'tempat rongsokan genom' yang luas.

Dengan cara ini, tubuh gajah dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap kerusakan DNA yang memungkinkan untuk mengurangi sel-sel kanker sedini mungkin.

Seperti dikuti dari laman Wired, Senin (13/11/2017), pada hewan multisel terjadi banyak siklus pertumbuhan dan perkembangan di sel. Di setiap pembelahan, sel-sel menyalin seluruh genom.

Baca Juga: Dinosaurus Terbesar Ditemukan, Bobotnya Setara Tumpukan 12 Gajah

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sering kali dalam proses tersebut terjadi kesalahan yang menyebabkan mutasi sel. Mutasi ini kemudian menyebabkan kanker.

Hal inilah yang membuat orang berpikir semakin besar tubuh hewan (semakin banyak jumlah selnya) akan meningkatkan risiko kanker. Tapi, hal itu tidak ditemukan oleh para ilmuwan yang sudah meneliti berbagai spesies dengan berbagai ukuran tubuh.

Mereka menemukan bahwa kanker tidak berkolerasi dengan jumlah sel dalam organisme atau umurnya. Hal ini juga diungkapkan oleh ahli epidemologi kanker, Profesor Richard Peto, pada tahun 1970-an, dan teorinya dikenal sebagai paradoks Peto.

Faktanya, para peneliti justru menemukan bahwa mamalia yang diketahui berumur panjang berisiko kecil memiliki kanker. Misalnya, hewan besar seperti gajah tidak memiliki tingkat kanker yang tinggi karena telah mengembangkan mekanisme penekanan kanker dalam tubuh.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.