Kompas.com - 05/11/2017, 17:06 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

 

KOMPAS.com - Baru-baru ini, dalam laporan Royal Astronomical Society, para astronom menyampaikan bahwa mereka telah menemukan planet "monster" dengan menggunakan Next-Generation Transit Survey (NGTS) yang berbasis di Gurun Atacama, Chile.

Secara teori, planet "monster" ini seharusnya tidak ada, karena ia mengorbit pada bintang kerdil yang samar dan jauh. Bintang ini memiliki radius dan massa sekitar setengah dari matahari.

Hal tersebut mengejutkan para astronom karena ukuran planet tersebut jauh lebih besar daripada bintang induknya. Ukuran planet ini diperkirakan sama dengan Jupiter.

Keberadaan gas raksasa tersebut menentang teori bahwa sebuah planet besar tidak dapat terbentuk pada bintang yang sangat kecil.

Baca juga: Pertama Kali dalam Sejarah, Asteroid Alien Datangi Tata Surya Manusia

Dalam teorinya, bintang-bintang kecil memang dapat membentuk planet berbatu. "Namun, bintang ini seharusnya tidak bisa mengumpulkan bahan yang cukup untuk membentuk planet berukuran Jupiter," kata Royal Astronomical Society dikutip dari AFP, Selasa (31/10/2017).

Planet diperkirakan terbentuk dari gas dan debu yang tersisa dari ledakan galaksi yang masif, kemudian berputar-putar di cakram sekitar bintang yang baru lahir dan berkumpul bersama untuk membentuk badan.

Royal Astronomical Society memberi nama bintang tersebut NGTS-1 dan planet "monster" itu NGTS-1b. Huruf b  menandakan bahwa itu adalah planet pertama yang terbentuk di sekitar bintang kerdil.

Untuk menemukan NGTS-1 dan NGTS-1b, para astronom menggunakan sebuah rangkaian yang terdiri dari 12 teleskop untuk menjelajahi langit dan mengidentifikasi pantulan cahaya yang dipancarkan oleh bintang. Pancaran cahaya tersebut merupakan tanda bahwa sebuah planet bergerak di depan bintang seperti yang dirasakan dari bumi.

"Penemuan NGTS-1b mengejutkan kami - planet masif seperti itu tidak diperkirakan ada di sekitar bintang kecil semacam itu," kata Daniel Bayliss dari University of Warwick, penulis utama penelitian ini.

Baca juga: Terungkap, Planet Mars Ternyata Punya Ekor

"Planet ini sekitar 25 persen radius bintang inangnya, sehingga terlihat sangat besar jika dibandingkan dengan bintang inangnya! Sebagai perbandingan, Jupiter hanya sekitar 10 persen jari-jari matahari kita" sambung Bayliss.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Gizmodo,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.