Kompas.com - 01/11/2017, 07:07 WIB
Ilustrasi sisa makanan Love Food Hate Waste NZ/WikipediaIlustrasi sisa makanan
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Sisa makanan yang mengandung zat gizi mikro menjadi salah satu fokus pemerintah terhadap penanggulangan defisiensi gizi. Hal ini dibahas oleh berbagai pihak dalam pertemuan Eat Asia Pacific Food Forum, Selasa (31/10/2017).

Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Maura Linda Sitanggang mengatakan, defisiensi gizi memiliki peran terhadap timbulnya penyakit tak menular seperti penyakit jantung dan stroke hingga memengaruhi kondisi mental. Untuk itu, diperlukan cara baru dalam memenuhi difisiensi zat gizi mikro di masyarakat.

“Strategi itu diperlukan untuk mengatasi defisiensi dari zat gizi mikro. Misalnya dari suplementasi, fortifikasi, biofortifikasi, dan yang paling utama adalah diferensiasi pangan,” kata Maura.

Dipaparkan dalam pertemuan tersebut, sisa makanan dari buah dan sayur mengandung fitonutrien yang dapat dimanfaatkan kembali oleh tubuh.

Baca juga : Inilah Tantangan Produksi Pangan Kita Menurut Jusuf Kalla

Kulit nanas, kulit pisang, dan kulit manggis, misalnya, mengandung likopen yang merupakan antioksidan kuat. Zat ini diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan jaringan dan organ yang bekerja dengan menangkal radikal bebas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh karena itu, pengolahan melalui teknologi pangan dapat menjadi alternatif strategi dalam mempercepat mitigasi kosumsi yang kurang sehat di masyarakat.

Food waste (limbah makanan) itu 50 persen di dunia. Kita butuh teknologi inovasi untuk memanfaatkannya. Kita panggil pelakunya. ITB kita panggil karena mereka sudah mulai membuat itu,” kata Maura.

Namun, Maura menuturkan bahwa pemerintah tetap memerlukan banyak riset mengenai pengolahan zat gizi mikro, mulai pembuktian ilmiah tehadap khasisatnya hingga keamanan produk olahan zat gizi mikro.

Baca juga : Kisah Slow Food University, Inspirasi soal Pangan yang Sehat dan Adil

 

Riset pemanfaatan zat gizi mikro menjadi penting bagi masyarakat Indonesia yang mengalami dua beban sekaligus. Di satu sisi, kekurangan gizi pada anak membuat stunting dan di sisi lainnya, terjadi obesitas pada masyarakat Indonesia tak dapat disepelekan.

Sementara itu, selain riset zat gizi mikro, Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes Siswanto mengatakan, prioritas penelitian difokuskan terhadap lima sektor dalam sistem makanan. Antara lain terkait produksi pangan, teknologi pangan, lingkungan pangan, perilaku konsumen, dan status gizi.

“Bagaimana masyarakat mengonsumsi makanan, kenapa mereka suka makanan tersebut hingga kualitas gizi. Topiknya nanti dikolaborasikan di lingkungan negara Asia Pasifik,” kata Siswanto.

Untuk diketahui, masalah ketahanan pangan menjadi perhatian seiring prediksi laju peningkatan penduduk dunia. Pada 2050 diperkirakan terjadi kenaikan 18 persen jumlah populasi dunia.

Sementara itu, data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menunjukkan 723 juta orang di dunia menderita kelaparan kronis, dan sebanyak 490 juta di antaranya hidup di kawasan Asia Pasifik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.