Kompas.com - 25/10/2017, 19:46 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Untuk memastikan apa yang sedang dialami Echa, Rima mengatakan perlu dilakukan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan CT Scan. Tujuannya adalah memastikan ada tidaknya kelainan seperti tumor di otak. "Kalau Kleine-Levin Syndrome ketika di-MRI (Magnetic Resonance Imaging) bersih otaknya.

Mulyadi, ayah Echa, mengaku sudah membawa putrinya ke rumah sakit untuk di CT Scan. Dua kali melakukannya, Mulyadi mengaku bahwa hasil pemindaian anaknya baik-baik saja. Meski demikian, pemindaian dengan cara lain seperti MRI bisa diupayakan lagi untuk memastikan.

Baca Juga: Cerita di Balik Tidur Nonstop 13 Hari yang Dialami Echa

Upaya memastikan seseorang mengalami Kleine Levin, harus dilakukan dengan investigasi pengalaman. Tidak ada langkah klinis seperti tes darah, hormon, ataupun genetik untuk memastikannya. Pemeriksaan seperti MRI dan EEG (Electroencephalogram) hanya bertujuan menghapus kemungkinan lain.

Rimawati mengatakan, "Kemungkinan besar penyebab Kleine Levin genetik, tapi kita juga belum tahu gen apa yang menyebabkan." Karena itulah, pemeriksaan genetik juga tidak bisa memastikan seseorang mengalami Kleine Levin.

Menurut International Classification of Sleep Disorders, seseorang dikatakan mengalami Kleine Levin bila mengalami tidur 2-4 minggu, kambuh beberapa kali, dengan periode antar kambuh antara bulan hingga tahun, dan diagnosanya tidak bisa diterangkan dengan penyakit saraf lain.

Selain itu, untuk bisa dikatakan Kleine Levin, hipersomnia atau tidur berlebihan juga harus disertai satu diantara empat gejala, yaitu gangguan mood dan kognisi, megaphagia atau makan berlebihan, hasrat seksual yang berlebihan, serta ekspresi tak normal seperti agresif dan sensitif berlebihan.

Dalam kasus Echa, gejala selain tiodur berlebihan belum diungkapkan. Sementara, Rima menambahkan, kecelakaan disertai luka di kepala yang dialami Echa belum bisa dikatakan sebagai pemicu tidur berlebihan yang dialaminya. Rima juga mengatakan, tak ada hubungannya trauma kepala dengan Kleine Levin.

Apa yang Harus Dilakukan pada Echa?

Yang jelas, pemeriksaan dahulu. Jika memang yang dialami Echa memang Kleine Levin, sayangnya, tak banyak yang bisa dilakukan untuk membantunya. Hingga saat ini, belum ada obat-obatan yang bisa dipastikan akan membantunya tidur normal.

"Kita bisa pakai obat-obat stimulan. Misalnya obat-obat untuk attention ADHD. Harusnya sih ada stimulan yang lebih aman, yaitu modafinil. Sayangnya obat itu belum masuk ke Indonesia," kata Rimawati yang praktek di Rumah Sakit Medistra.

Sejumlah obat sebenarnya telah diujicobakan. Amphetamine misalnya. Namun, tingkat keberhasilannya hanya 71 persen. Itu pun tak membantu tidur, hanya membantu menenangkan mood. Obat lain adalah Lithium yang punya tingkat keberhasilan lebih rendah, cuma 41 persen.

Selain dengan obat, Rimawati mengatakan bahwa yang terpenting adalah sikap keluarga, sekolah, serta masyarakat. "Perlu ada kesadaran bahwa ini memang penyakit, bukan karena si anak ini malas," ungkap Rimawati.

Yang sedikit melegakan, Kleine Levin bisa reda pada usia 20-30 tahun. "Makin dewasa biasanya episodenya (tidur) lebih jarang," sambung Rimawati. Jika memang menderita itu, maka ada harapan Echa bisa hidup normal di kemudian hari.

Baca Juga: Sering Tidur Nonstop hingga 13 Hari, Remaja Echa Disarankan Pindah Sekolah

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terbuat dari Apa Darah Manusia?

Terbuat dari Apa Darah Manusia?

Kita
3 Manfaat Rambutan Menurut Sains

3 Manfaat Rambutan Menurut Sains

Oh Begitu
Manfaat Ajaib Daun Kelor untuk Kulit, Cegah Jerawat hingga Bibir Kering

Manfaat Ajaib Daun Kelor untuk Kulit, Cegah Jerawat hingga Bibir Kering

Oh Begitu
Dampak Perubahan Iklim Sebabkan Warna Danau Bumi Ikut Berubah

Dampak Perubahan Iklim Sebabkan Warna Danau Bumi Ikut Berubah

Oh Begitu
Kenapa Lumba-lumba Pintar?

Kenapa Lumba-lumba Pintar?

Oh Begitu
Apakah Dinosaurus Termasuk Reptil?

Apakah Dinosaurus Termasuk Reptil?

Oh Begitu
Ada 4 Jenis Burung Puffin di Dunia, Apa Saja?

Ada 4 Jenis Burung Puffin di Dunia, Apa Saja?

Oh Begitu
4 Tips Memelihara Ikan Koi di Kolam

4 Tips Memelihara Ikan Koi di Kolam

Oh Begitu
6 Penyebab Nyeri Tangan yang Harus Diwaspadai

6 Penyebab Nyeri Tangan yang Harus Diwaspadai

Oh Begitu
5 Perbedaan Kuda Poni dan Kuda Biasa yang Sering Dikira Sama

5 Perbedaan Kuda Poni dan Kuda Biasa yang Sering Dikira Sama

Oh Begitu
Studi Ungkap Kota Maya Kuno Terkontaminasi Merkuri

Studi Ungkap Kota Maya Kuno Terkontaminasi Merkuri

Oh Begitu
Bukti Awal Penggunaan Opium Ditemukan di Israel

Bukti Awal Penggunaan Opium Ditemukan di Israel

Fenomena
Misi Uji Lindungi Bumi, Wahana Antariksa NASA Bakal Tabrak Asteroid

Misi Uji Lindungi Bumi, Wahana Antariksa NASA Bakal Tabrak Asteroid

Oh Begitu
Sebabkan Pikun, Apakah Demensia Bisa Dicegah?

Sebabkan Pikun, Apakah Demensia Bisa Dicegah?

Oh Begitu
Apa Itu Kuda Poni, yang Tubuhnya Lebih Kecil dari Kuda Biasa?

Apa Itu Kuda Poni, yang Tubuhnya Lebih Kecil dari Kuda Biasa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.