Lama Dicari, Makhluk Langka Zaman Purba Ditemukan Mati Sendiri

Kompas.com - 19/10/2017, 17:34 WIB
Siphusauctum lloydguntheri Julien Kimmig/KU News ServiceSiphusauctum lloydguntheri
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Sejak ditemukannya serpihan spesimen Siphusauctum iloydguntheri pada tahun 1976, para peneliti terus mencari keberadaan fosil utuhnya.

Akhirnya pada tahun 2017 dewi fortuna berpihak kepada ilmu pengetahuan. Fosil S. iloydguntheri ditemukan di ngarai wilayah Utah, Amerika Serikat.

Namun penemuan itu disertai dengan kekecewaan berikutnya.

Hewan invertebrata itu tak punya kerabat selama melewati periode akhir kambrium yang berlangsung pada 541 juta sampai 485,4 juta tahun yang lalu.

Kemungkinan makhluk yang kini sudah jadi fosil ini merupakan korban kepunahan massal.

S. iloydguntheriis adalah spesies yang namanya diambil dari nama pemburu fosil terkemuka, Lloyd Gunther. Dia menyerahkan fosil S. iloydguntheriis bersama banyak fosil lainnya ke Universitas Kansas.

Bentuk S. iloydguntheriis menyerupai bunga tulip yang tengah mekar atau gelas anggur putih. Makhluk laut berusia sekitar 500 juta tahun ini hidup dengan menghisap mikroplankton di sepanjang dasar laut.

Berkat penemuan ini, para peneliti dari Universitas Kansas berhasil melakukan sedikit deskripsi anatomi dan dipublikasikan di Journal of Paleontology volume 91 September 2017.

Baca Juga: Jutaan Makhluk Bermunculan di Lautan, Ilmuwan Pun Bingung

"Bagian atas tulip adalah organisme itu sendiri," kata penulis studi Julien Kimmig, yang juga menjadi manajer koleksi untuk Paleontologi Avertebrata di Institut Keanekaragaman Hayati di Unviersitas Kansas seperti dikutip dari Live Science pada Selasa (17/10/2017).

"Makluk itu memiliki tangkai yang menempel di tanah dan bagian atas, yang disebut 'kelopak', yang memiliki segalanya dari saluran pencernaan hingga mekanisme pemberian makan. Kondisi Itu terbilang primitif dan aneh."

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X