Kekurangan Populasi, Seniman Ini Bikin 350 "Penduduk" dari Boneka

Kompas.com - 14/10/2017, 19:50 WIB
Tsukimi Ayano membuat boneka-boneka ini untuk menggantikan orang-orang yang pergi meninggalkan Nagoro. Getty ImagesTsukimi Ayano membuat boneka-boneka ini untuk menggantikan orang-orang yang pergi meninggalkan Nagoro.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Populasi desa yang menurun dan menua merupakan isu nasional di Jepang.

Jumlah kelahiran di Jepang menurun 2,9 persen dari tahun sebelumnya, dan sekarang turun menjadi kurang dari satu juta. Ini adalah jumlah kelahiran terendah dibandingkan dengan data sejak tahun 1974.

Selain itu, lebih banyak anak muda yang pada akhirnya memilih untuk pindah ke kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Alasannya jelas, soal lapangan kerja yang luas dan sektor pendidikan yang tersedia hingga jenjang universitas.

Salah satu desa yang populasinya berkurang drastis adalah desa Nagoro.

(Baca juga: Kisah Morandi, Pria yang Menyepi 28 Tahun di Pulau Tak Berpenghuni)

Namun, dengan populasi kurang dari 40 orang, desa Nagoro justru berhasil menjadi atraksi menarik bagi turis.

Semua bermula ketika Tsukimi Ayano pindah kembali ke desa kecil Nagoro di pulau Shikoku, tempat dia dilahirkan dan dibesarkan.

Sebelumnya dia tinggal di Osaka, kota terbesar ketiga di Jepang.

Nagoro hampir tidak memiliki 'keturunan'. Desa ini sudah berada di ujung kepunahan. Ayano melihat bahwa desa yang dulunya menjadi rumah bagi lebih dari 300 orang telah menyusut populasinya menjadi hanya 35 orang saja.

Setelah kepergian ayahnya, Ayano memutuskan untuk menciptakan orang-orangan sawah sesuai dengan visinya.

Hampir lima belas tahun kemudian, Nagoro dihuni sepuluh kali lebih banyak boneka daripada manusia. Banyak di antaranya mewakili orang yang baru saja meninggal atau pindah dari desa.

(Baca juga: Bukti Baru Memutar Balik Sejarah Pulau Paskah)

Dalam sebuah film dokumenter berjudul The Valley of Dolls, Ayano bercerita mengenai boneka-boneka bikinannya itu.

"Ketika saya membuat boneka orang yang sudah meninggal, saya memikirkan saat mereka masih hidup dan sehat. Boneka itu seperti anak-anakku," ujar Ayano.

Seluruh desa termasuk ruang kelas yang terbengkelai menjadi galeri boneka Ayano. Tanpa lelah, Ayano juga memperbaiki robekan pada boneka-boneka yang kini berjumlah lebih dari 350 dan menempatkan mereka kembali di tempat-tempat tertentu, seperti sedang menunggu bus atau melakukan pekerjaan di lapangan.

Kini, meski telah kehilangan mayoritas penduduknya, desa ini berhasil menarik wisatawan yang melakukan perjalanan jauh, khusus untuk melihat kreasi Ayano.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X