Kompas.com - 12/10/2017, 16:07 WIB
Ilustrasi sel punca ShutterstockIlustrasi sel punca
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Terobosan teknologi kedokteran berupa sel punca (stem cell) digadang mampu mengobati penyakit yang tidak mendapat kesempatan sembuh, misalnya penyakit jantung yang tak kunjung sembuh setelah menjalani serangkaian pengobatan.

Sel punca yang diambil dari darah tali pusat, jaringan tali pusat, sumsum tulang belakang, dan lemak manusia memiliki kemampuan istimewa. Ia bisa memperbaharui atau meregenerasi diri dan mampu berdiferensiasi menjadi sel lain.

Sayangnya, perkembangan sel punca hingga kini belum dapat digunakan sebagai standar pelayanan untuk berbagai penyakit. Tak hanya di Indonesia, perkembangan secara global pun belum menunjukkan kemajuan pesat.

Oleh karena itu, tidak heran bila berbagai pengobatan sel punca yang ditawarkan pada saat ini menggunakan ekstrak tanaman dan sel hewan. Fenomena ini terjadi baik di Indonesia maupun di luar negeri.

(Baca juga: September, Produk Sel Punca Pertama Indonesia Diuji pada Manusia)

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 32 tahun 2014 tentang Penetapan Rumah Sakit Pusat Pengembangan Pelayanan Medis Penelitian dan Pendidikan Bank Jaringan dan Sel Punca, ada 11 rumah sakit yang diberi izin terapi sel punca.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di antara lain adalah Rumah Sakit Cipta Mangun Kusumo, RS Sutomo, RS M Djamil, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Dharmais, RS Harapan Kita, RS Hasan Sadikin, RS Kariadi, RS Sardjito dan RS Sanglah.

Kepala UPT Cell Punca RSCM Dr. dr. Ismail HD, Sp.OT (K) mengatakan, perkembangan sel punca didasari oleh perkembangan bukti penelitian. Uji klinis menjadi penting mengingat sel punca merupakan bagian dari pengembangan teknologi kedokteran.

Ismail mengatakan, fase pertama dilakukan pengujian pada manusia sehat. Hal ini bertujuan untuk mencari efek samping dari pengguna stem cell.

Fase kedua, stem cell diujikan kepada orang yang mengalami penyakit tertentu, di mana tak pilihan pengobatan lain. Untuk melakukan ini, pasien juga akan menjalani serangkain tahap tertentu.

(Baca juga: Pada Sel Punca Otak, Ilmuwan Temukan Kunci Umur Panjang)

“Ketiga, dibandingkan bagaimana pengobatan standar dengan sel punca. Keempat, fase post-marketing atau dipasarkan," kata Ismail di RSCM, Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.