Kompas.com - 05/10/2017, 17:07 WIB
Jacques Dubochet, Joachim Frank, dan Richard Henderson memenangkan penghargaan Nobel Kimia 2017. The Nobel Prize/TwitterJacques Dubochet, Joachim Frank, dan Richard Henderson memenangkan penghargaan Nobel Kimia 2017.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Pemenang Nobel Kimia 2017 akhirnya diumumkan pada hari Rabu kemarin (4/10/2017). Penghargaan tersebut diberikan kepada Jacques Dubochet dari Universitas Lausanne, Joachim Frank dari Universitas Columbia, dan Richard Henderson dari Universitas Cambridge yang berjasa dalam mengembangkan mikroskop krio-elektron (cryo-EM).

Dengan menggunakan teknik mikroskop krio-elektron, para peneliti bisa mempelajari molekul biologi dalam resolusi atom, sebuah ketajaman yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Teknik ini tidak hanya membantu para peneliti untuk mempelajari struktur biomolekul, tetapi juga mengeksplorasi berbagai proses biologi. Sebagai contoh adalah untuk menvisualisasikan cara antibodi melawan virus.

(Baca juga: 3 Ilmuwan Menangi Nobel setelah Kembangkan Mikroskop Krio-elektron)

Sebelum mikroskop krio-elektron, para peneliti harus menggunakan teknik mikroskop elektron transmisi (TEM) atau kristalografi sinar-X untuk melihat struktur yang terlalu kecil bagi mikroskop cahaya. Namun, kedua teknik tersebut bukan tanpa masalah.

Kristalografi sinar-X yang menembakkan sinar X melalui sampel untuk menciptakan pola struktur molekul hanya dapat digunakan bila biomolekul membentuk struktur yang diminta. Teknik ini juga tidak bisa digunakan untuk melihat bagaimana molekul bergerak.

Sementara itu, teknik TEM dapat merusak sampel. Elektronnya sendiri dapat membakar biomolekul yang sedang dipelajari, sedangkan penggunaan vakum dalam teknik dapat membuat biomolekul kering dan runtuh.

Nah, di sinilah fungsi teknik mikroskop krio-elektron. Menangkal semua permasalahan di atas, para peneliti dapat mengombinasikan TEM dengan mikroskop krio-elektron untuk menvisualisasikan molekul biologi dengan resolusi atom.

(Baca juga: Bukti Ramalan Einstein Seabad Lalu Raih Nobel Fisika 2017)

Henderson bersama timnya menggunakan larutan glukosa untuk mencegah pengeringan molekul. Mereka juga menggabungkan elektron bertegangan rendah dengan foto-foto yang diambil dalam berbagai sudut dan pendekatan matematika untuk membangun foto tiga dimensi dari protein yang tertata rapi dalam membran biologi.

Sementara itu, Frank  berhasil mengembangkan teknik memproses foto yang dapat memecah data TEM dan membangun foto biomolekul seakan-akan berada di dalam larutan.

Akan tetapi, teknik Henderon tidak dapat digunakan untuk biomolekul yang dapat dilarutkan dalam air, sedangkan membekukan sampel dapat menimbulkan formasi kristal es yang dapat menganggu hasil gambar dan sampel itu sendiri.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.