Kompas.com - 04/10/2017, 17:05 WIB
ular piton sepanjang 7 meter yang ditangkap warga di Riau. Sutarja ular piton sepanjang 7 meter yang ditangkap warga di Riau.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Seekor piton merobek tendon lengan kiri Robet Nababan (37), seorang warga Desa Belimbing Kecamatan Batang Gangsal Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau.

Kini, ia masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari Rengat, di Kelurahan Pematang Rebah, Kecamatan Rengat Barat.

Nasib sial Robet bermula saat dia mendapati ular piton melintang di jalan di area PT Sumber Sawindo Kencana pada Sabtu (30/9/2017) pukul 10.00 WIB. Warga pun tak berani lewat.

Dengan inisatif sendiri, Robet menghubungi sejumlah temannya yang merupakan pemburu ular. Robet mendapat bagian menangkap kepala dan diserang oleh piton tersebut.

(Baca juga: Bagaimana Caranya agar Tidak Mati setelah Digigit Ular Berbisa?)

Herpetolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Amir Hamidy mengatakan, piton yang ditemukan termasuk ular dengan tubuh luar biasa besar yang hidup di hutan. Ular tersebut diperkirakan berumur lebih dari 15 tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Bisa 20-30 tahun. Yang tercatat ular tumbuh di Kendang itu sampai sembilan meter. Di alam lebih kecil. Dulu, pernah ada ular yang menelan buaya di Kalimantan Timur sebesar 7,5 meter, tapi tidak ada lebih dari itu,” kata Amir saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/10/2017).

Menurut Amir, meski telah menyerang manusia, ular tak bisa begitu saja disalahkan.

Sebab, habitatnya telah lebih dulu diganggu dengan alihfungsi hutan menjadi lahan sawit. Sawit sendiri mendatangkan cukup banyak tikus yang menjadi santapan ular untuk bertahan hidup.

(Baca juga: Tujuh Jenis Bisa Ular di Indonesia, Kenali Bedanya, Pahami Dampaknya)

“Biasanya kalau ular besar seperti itu, dia tidak berburu, tapi dia menunggu seperti di perlintasan babi hutan,” kata Amir.

Selain itu, Amir juga ingin mengingatkan masyarakat agar tidak bertindak sendiri ketika menghadapi satwa liar. Dalam konteks ini, lebih baik menunggu ular tersebut pindah dari jalan yang dilalui warga daripada berusaha menangkapnya seperti yang dilakukan oleh Robet dan teman-teman.

Aksi tanpa perhitungan bisa berujung fatal, seperti yang pernah dialami oleh pawang buaya Supriyanto di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Sang pawang buaya hendak menolong Arjuna (16) yang diduga telah dimangsa buaya. Namun, Supriyanto justru ikut bernasib sama.

“Banyak orang mengaku pawang, pakar, tapi belum paham betul dengan perilaku satwa liar, baik itu ular maupun buaya. Kalau sampai ular ini menggigit, saya ragu dia paham perilaku ular. Ular 5,2 meter itu sudah bisa menelan manusia dewasa,” kata Amir.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.