Kompas.com - 04/10/2017, 09:17 WIB
Penyuntingan dasar atau base editing mengubah blok bangunan mendasar dari DNA Getty Images via BBC IndonesiaPenyuntingan dasar atau base editing mengubah blok bangunan mendasar dari DNA
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- 'Operasi kimia' yang teliti sudah dilakukan atas embrio manusia untuk mengangkat penyakit, yang merupakan pertama kali di dunia.

Satu tim peneliti di Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China, mengatakan kepada BBC bahwa mereka menggunakan teknik yang disebut base editing atau 'penyuntingan dasar' untuk memperbaiki kesalahan tunggal dari tiga milar 'huruf' dalam kode genetika manusia.

Mereka mengubah embrio yang diciptakan di laboratorium untuk mengangkat penyakit beta-thalassemia namun embrio itu tidak ditanamkan ke manusia.

(Baca juga: Kali Pertama, Ilmuwan Hapuskan DNA Penyakit dari Embrio Manusia)

Pendekatan tersebut, menurut tim peneliti, pada suatu hari kelak mungkin bisa menyembuhkan rangkaian penyakit turunan.

Penyuntingan dasar mengubah blok bangunan mendasar DNA: empat dasar adenine, cytosine, guanine and thymine -yang umumnya dikenal dengan huruf awalnya A, C, G, dan T.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semua instruksi untuk membangun dan menjalankan tubuh manusia dikodekan dalam kombinasi keempat dasar tersebut.

Penyakit penyimpangan darah beta-thalassemia, yang berpotensi mematikan, disebabkan oleh satu perubahan dasar tunggal dalam kode genetika, yang dikenal dengan titik mutasi.

Beta-thalassemia, yang berpotensi mematikan, disebabkan oleh satu perubahan dasar tunggal dalam kode genetikaGetty Images via BBC Indonesia Beta-thalassemia, yang berpotensi mematikan, disebabkan oleh satu perubahan dasar tunggal dalam kode genetika

Tim di Universitas Sun Yat-sen kemudian menyuntingnya untuk dikembalikan lagi.

Mereka mengindai DNA untuk mengidentifikasi kesalahan dan mengubah G menjadi A sebagai cara memperbaiki penyimpangannya.

Salah seorang peneliti, Junjiu Huang, mengatakan kepada BBC, "Kami yang pertama kali memperagakan kelayakan dari penyembuhan penyakit genetika di embrio manusia dengan sistem penyuntingan dasar."

Dia menambahkan penelitian mereka membuka jalan baru dalam mengobati pasien dan mencegah bayi lahir dengan beta-thalassemia dan 'bahkan penyakit-penyakit turunan lainnya'.

Percobaan dilakukan dengan selaput yang diambil dari seorang pasien yang menderita penyimpangan darah dan di dalam embrio manusia yang dikloning.

Penyuntingan dasar (base editing) merupakan kemajuan dari bentuk penyuntingan yang dikenal dengan Crispr, yang merupakan salah satu revolusi dalam sains.

Crispr merusak DNA dan ketika tubuh berupaya memulihkan kerusakan itu, maka akan menonaktifkan seperangkat instruksi yang disebut gen. Hal itu juga merupakan peluang untuk memasukkan informasi genetika yang baru.

Sementara base editing bekerja dengan prinsip bahwa dasar DNA itu sendiri yang mengubah satu dasar menjadi dasar yang lainnya.

Rangkaian DNA yang ditampilkan di layar komputer dengan menggunakan beraneka warna.Science Photo Library via BBC Indonesia Rangkaian DNA yang ditampilkan di layar komputer dengan menggunakan beraneka warna.

Profesor David Liu -pelopor penyuntingan dasar di Universitas Harvard, Amerika Serikat- menyebut pendekatan itu sebagai 'operasi bedah kimia'.

Menurutnya teknik tersebut lebih efisien dengan dampak samping yang tidak diinginkan lebih kecil dibanding Crispr.

"Sekitar dua pertiga varian genetika manusia yang diketahui yang berkaitan dengan penyakit adalah titik mutasi. Jadi penyuntiungan dasar memiliki potensi untuk perbaikan langsung, atau memproduksinya kembali guna tujuan penelitian, dalam banyak mutasi."

Tim peneliti di Universitas Sun Yat-sen sebelumnya juga menjadi berita karena merupakan yang pertama menggunakan metode Crispr untuk embrio manusia.

Penelitian yang dimuat di terbitan ilmiah Protein and Cell, merupakan contoh terbaru dalam pengembangan pesat dari kemampuan para ilmuwan untuk memanipulasi DNA.

Namun kemajuan ini memicu perdebatan etis dan sosial yang mendalam, tentang hal yang bisa diterima dan tidak bisa diterima dalam upaya mencegah penyakit.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Tulang Kelelawar Vampir Raksasa Ditemukan di Gua Argentina

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X