Kompas.com - 29/09/2017, 09:10 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com--– Tak ada yang akan meragukan kelucuan seekor panda. Oleh karena itu, tidak heran bila berbagai negara berlomba-lomba mendapatkan pengetahuan dan kehormatan untuk mengembangbiakkan hewan yang terancam punah ini di luar habitatnya atau eksitu.

Hingga kini, terdapat 16 negara yang mendapatkan izin dari pemerintah China untuk memelajari konservasi panda. Indonesia menjadi negara terakhir yang kedatangan dua panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) bernama Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina). Kedua pasangan panda itu tiba di Terminal Kargo Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (28/9/2917).

Mengenai keimutan panda, penulis Smithsonian.com Abigail Tucker mengatakan, para ilmuwan saraf menduga bahwa ketertarikan manusia terhadap panda terletak pada anatomi tubuh mamalia besar itu.

(Baca juga: Panda Raksasa dari China Bakal Jalani Karantina, Kenapa?)

Pipinya yang tembam dan gaya berjalannya yang unik karena kakinya yang pendek, dapat merangsang sirkuit otak manusia. Khususnya, bagian otak yang bekerja saat terjadi interaksi dengan bayi.

Bayi memiliki mata yang seolah terlihat lebih besar dari manusia dewasa. Hal itu juga terjadi pada panda. Dengan tanda hitam yang melingkar, mata panda tampak lebih besar hingga sepuluh kali lipat. Padahal, “masker wajah” tersebut berfungsi untuk mengusir predator.

Panda juga menjadi satu-satunya hewan yang punya jempol semu. Tulang pergelangan tangannya yang fleksibel memungkinkan pemakan bambu ini memanipulasi objek. Ia juga mampu berdiri dengan kaki belakang dan suka bermain di salju sehingga tampak semakin lucu.

Namun, persebaran panda ke berbagai belahan dunia tak melulu soal konservasi. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Oxford pada Environmental Practice menyebutkan bahwa ada peran diplomasi politik Duta Besar China ke negara tujuannya.

(Baca Juga: Benarkah Panda Bisa Dirangsang dengan Film Porno?)

"Apa yang dilihat negara lain adalah makhluk imut dan suka diemong ini, tapi ada banyak hal yang terjadi di balik layar," kata Kathleen Buckingham, penulis utama penelitian tersebut.

"Dari perspektif China, berbagi pemeliharaan hewan berharga semacam itu memperkuat ikatan yang dimiliki China dengan 'lingkaran dalam' berbagai negara," ujarnya.

Dalam makalahnya, Buckingham menjelaskan, panda menjadi pembuka hubungan China dengan negara lain. Sebagai contoh adalah ketika Mao Zedong memberikan panda kepada Uni Soviet pada 1965. Hadiah serupa juga diberikan kepada Amerika Serikat pada tahum 1972.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.