Kompas.com - 08/09/2017, 17:05 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com –- Jutaan tahun yang lalu, tepatnya sekitar 360 juta tahun lalu saat periode Devonian, sekelompok ikan yang disebut dengan ikan bersirip lobus berusaha hidup di daratan.

Sirip mereka yang berdaging, berotot, dan bertulang pun berkembang menjadi sirip dan sayap sehingga memungkinkan mereka untuk berevolusi menjadi tetrapoda atau hewan berkaki empat. Burung, kura-kura, anjing laut adalah beberapa keturunan mereka.

Akan tetapi, alur kisah ini bisa berubah dengan penemuan fosil ikan bersirip lobus yang ditemukan di sebuah tambang di China pada tahun 2002. Dinamakan Hongyu chowi, ikan ini hidup sekitar 370-360 juta tahun yang lalu dan panjangnya kira-kira 1,5 meter.

(Baca juga: Bisa Berjalan seperti Hewan Darat, Ikan Ini Membuktikan Kebenaran Teori Evolusi)

Walaupun memberikan kabar gembira bagi para peneliti evolusi, karakteristik H chowi membuat peneliti kebingungan karena sulit ditempatkan secara filogenetis.

Bila dilihat dari ukuran bentuk tulangnya, H chowi sesuai dengan karakteristik morfologi rhizodont, kelompok ikan bersirip lobus yang membelah dari kelompok suku tetrapoda dan berevolusi menjadi binatang berkaki empat.

Min Zhu & Per Ahlberg/Nature Fosil H Chowi

Sementara itu, karakteristik morfologi berupa kerangka bahu dan insang H chowi juga sesuai dengan milik elpistostegid, kelompok ikan bersirip lobus lain yang menjadi awal tetrapoda.

Salah satu peneliti, Min Zhu, berkata bahwa terdapat dua kemungkinan untuk menjelaskan karakteristik H chowi. Pertama, ikan aneh itu merupakan rhizodont yang secara independen berevolusi menjadi tetrapoda. Kedua, rhizodont punya hubungan yang lebih dekat dengan elpistostegid dan tertrapoda dari yang diperkirakan sebelumnya.

(Baca juga: Jangan Ditanyakan Lagi, Ini Alasan Kera Tidak Berevolusi Jadi Manusia)

"Dalam kedua kasus tersebut, keseluruhan hasil menunjukkan peningkatan yang substansial pada homoplasy (karakteristik dua spesies jauh yang berevolusi menjadi tampak serupa karena dekat secara genetik) pada kelompok suku tetrapod," tulis Min Zhu dan timnya dalam penelitian yang dipublikasi pada jurnal Nature Ecology and Evolution pada 4 Sepetember 2017.

Mereka melanjutkan, ini juga menunjukkan bahwa keragaman ekologi dan karakter biogeografis pada kelompok suku tetrapod telah diabaikan.

Berdasarkan dugaan para peneliti, H chowi tampaknya juga memiliki karakteristik yang tidak sesuai dengan kedua kelompok. Meski hal ini perlu konfirmasi lebih lanjut karena fosil moncong H chowi tidak dapat ditemukan, bagian rahang menunjukkan bahwa ikan ini hidup di dasar laut untuk menyergap dan melahap mangsanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.