Jangan Ditanyakan Lagi, Ini Alasan Kera Tidak Berevolusi Jadi Manusia

Kompas.com - 20/08/2017, 20:04 WIB
Ilustrasi March of Progress oleh Rudolph Zallinger yang dimuat di buku Early Man (1965). Ilustrasi ikonis ini membuat banyak orang salah memahami evolusi. Rudolph Zallinger/Early ManIlustrasi March of Progress oleh Rudolph Zallinger yang dimuat di buku Early Man (1965). Ilustrasi ikonis ini membuat banyak orang salah memahami evolusi.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Tim jurnalis sains di Washington Post pernah mendapat sebuah pertanyaan menarik. Kira-kira begini bunyinya: “Mengapa tidak ada Hominini yang tersisa di bumi? Kalau evolusi selalu terjadi dan spesies selalu berubah dan beradaptasi, tidakkah kita seharusnya bisa melihat spesies manusia baru yang merupakan hasil evolusi dari kera?”

Di Indonesia pun, pertanyaan ini sering kali ditanyakan, meskipun sebenarnya ada banyak kesalahan di dalamnya.

Pertama-tama, Homininii yang merupakan bahasa ilmiah untuk manusia masih ada di bumi, yaitu kita yang Homo sapiens.

(Baca juga: Fosil Baru Mengungkap Wajah Nenek Moyang Manusia dan Kera)

Lalu, kita termasuk kelompok kera besar yang disebut sebagai keluarga taksonomi hominid atau hominidae. Begitu juga neanderthal, australopitechus, manusia purba lain, orangutan, gorila, bonobo dan simpanse yang berevolusi dari nenek moyang yang sama sekitar 14 juta tahun yang lalu.

Jadi, bisa dibilang bahwa makhluk yang kini kita sebut kera bukanlah nenek moyang, tetapi saudara jauh kita.

“Bertanya mengapa gorila tidak berevolusi menjadi manusia purba sama dengan bertanya mengapa anak-anak dari sepupu Anda tidak mirip Anda,” kata Matt Tocheri, seorang dosen antropologi di Lakehead University dan peneliti dari Program Asal Manusia di National Museum of Natural History.

Dia melanjutkan, makhluk-makhluk ini sudah memiliki garis keturunannya sendiri selama 10 juta tahun. Mereka tidak bisa mundur kembali dan turun menjadi manusia.

Selain itu, belum tentu para gorila, bonobo, simpanse, dan kera-kera modern lainnya ingin menjadi manusia.

(Baca juga: Apakah Manusia Masih Berevolusi?)

Nina Jablonski, seorang paleoantropolog di Evan Pugh University berkata bahwa evolusi tidak selinear dan seprogresif yang Anda kira, meskipun sangat mudah untuk membayangkannya sebagai amoba bersel satu yang terus menerus berubah menjadi semakin kompleks hingga berakhir sebagai manusia.

Di dunia nyata, evolusi justru lebih suka menyederhanakan dan menghilangkan fitur-fitur tubuh yang dianggapnya tidak diperlukan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X