Kompas.com - 05/09/2017, 20:06 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Para astronom menemukan bukti adanya lubang hitam besar berukuran seratus ribu kali lebih besar dari matahari. Lubang hitam itu bersembunyi di antara awan gas beracun yang dekat dengan pusat galaksi.

Jika memang keberadaan sudah terkonfirmasi, lubang hitam ini akan menempati peringkat kedua terbesar setelah lubang hitam supermasif yang dikenal sebagai Sagitarius A*.

Astonom di Jepang menemukan adanya lubang hitam ini ketika mereka sedang melakukan pengamatan di gurun Atacama, Cile. Pada awalnya, mereka mengamati awan gas dengan harapan bisa memahami pergerakan gas tersebut.

(Baca juga: Ditemukan, Sepasang Lubang Hitam yang Akan Berdansa Sampai Kiamat)

Namun apa yang mereka temui rupanya berbeda, gas di awan ini bergerak dengan kecepatan yang sangat berbeda. Pengamatan dari teleskop Alma di Cile menunjukkan jika molekul-molekul di awan elips, yang berjarak 200 tahun cahaya dari pusat Bima Sakti dan lebar 150 triliun kilometer, ditarik oleh kekuatan gravitasi yang sangat besar.

Penyebab yang paling mungkin dari fenomena ini adalah lubang hitam yang membentang tak lebih dari 1,4 triliun kilometer.

Kecurigaan para astronom bahwa ada lubang hitam yang terletak di tengah awan gas ini juga muncul saat pengamatan lebih lanjut dengan menggunakan gelombang radio. "Ini adalah pendeteksian pertama kandidat lubang hitam berukuran menengah di galaksi Bima Sakti," kata Tomoharu Oka, astronom di Universitas Keio di Tokyo, dikutip Guardian 4 September 2017.

Menurut perhitungan ilmuwan, Bima Sakti adalah rumah bagi 100 juta lubang hitam, meski hanya sekitar 60 saja yang terlihat, termasuk di antaranya adalah Sagitarius A* yang memiliki berat 400 juta kali matahari dan terletak di jantung galaksi Bima Sakti. Meski begitu, belum diketahui bagaimana lubang hitam supermasif ini terbentuk.

(Baca juga: Mungkinkah Lubang Hitam Membawa Kita ke Alam Semesta Lain?)

Satu teori berkata jika lubang hitam yang lebih kecil terus menyatu hingga menjadi lebih besar dan membentuk lubang hitam supermasif di jantung galaksi. Sementara itu, peneliti justru meragukan jika lubang hitam bisa terbentuk dengan ukuran menengah.

"Peneliti telah mengumpulkan bukti observasi untuk kedua lubang hitam itu, baik supermasif dan yang berukuran menengah," kata Brooke Simmon, peneliti dari Universitas of California di San Diego yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Dia melanjutkan, menurut kami, meski lubang hitam besar terbentuk dari yang kecil, kita tidak pernah benar-benar memiliki bukti adanya lubang hitam dengan ukuran menengah.

Sebaliknya, Oka, yang penelitiannya dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy, berkata bahwa lubang hitam yang baru ditemukan bisa jadi inti sebuah galaksi kerdil tua yang telah dikanibalisasi selama pembentukan Bima Sakti miliaran tahun yang lalu.

Perlahan-lahan, lubang hitam ini akan tertarik menuju Sagitarius A* dan tenggelam ke dalamnya, membuat lubang hitam supermasif tersebut menjadi semakin besar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.