Kompas.com - 29/08/2017, 16:07 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Para peneliti telah lama menduga bahwa planet-planet es raksasa seperti Neptunus dan Uranus sering mengalami hujan berlian. Namun, baru kali ini dugaan tersebut terbukti setelah situasi kedua planet tersebut direplikasi di dalam laboratorium.

Meskipun dijuluki planet es raksasa, Neptunus dan Uranus sebetulnya sangatlah panas. Kebalikan dengan atmosfer atasnya yang ratusan derajat fahrenheit di bawah titik beku karena jauh dari matahari, pusat dari planet ini bisa mencapai ribuan derajat fahrenheit karena tekanan interiornya yang luar biasa.

Kombinasi dari kedua temperatur yang ekstrem dengan tekanan yang luar biasa ini menciptakan kondisi spesial di mana hidrogen dan karbon dapat membentuk hujan berlian pada 8.000 kilometer di bawah permukaan atmosfer Uranus dan Neptunus.

(Baca juga: Ternyata, Mars yang Gersang Juga Punya Badai Salju)

Untuk mereplikasi kondisi tersebut di dalam laboratorium, Dominik Kraus, seorang peneliti dari Helmholtz Zentrum Dresed-Rossendorf, dan kolega menggunakan laser untuk mengirim sepasang gelombang kejut melalui plastik yang terbuat dari hidrogen dan karbon (polystryene).

Sepasang gelombang kejut tersebut menciptakan tekanan dan panas yang menyerupai interior kedua planet es dan dalam waktu yang sangat-sangat singkat, sekitar 50 femtosekon (500−15 detik), atom karbon dan hidrogen dari plastik memisahkan diri untuk membentuk berlian yang diameternya hanya beberapa nanometer.

“Waktu eksperimen ini sangatlah pendek sampai kita pun terheran-heran bisa melihat penciptaan berlian,” kata Kraus kepada The Guardian 21 Agustus 2017.

Dalam eksperimen Kraus, berlian yang dihasilkan memang sangat kecil. Akan tetapi, dalam lingkungan yang stabil seperti Neptunus dan Uranus, berlian mungkin menghabiskan waktu ribuan tahun hingga bertumbuh menjadi jutaan karat.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Nature Astronomy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Oh Begitu
Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Oh Begitu
Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Kita
Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Oh Begitu
Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Prof Cilik
Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Oh Begitu
Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Oh Begitu
Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Oh Begitu
Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Oh Begitu
Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Oh Begitu
Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Oh Begitu
Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Kita
5 Objek Paling Terang di Tata Surya

5 Objek Paling Terang di Tata Surya

Oh Begitu
Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Fenomena
Trenggiling Makan Apa?

Trenggiling Makan Apa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.