Kompas.com - 29/08/2017, 08:05 WIB
ilustrasi hujan shutterstockilustrasi hujan
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com -– Fenomena unik terjadi di Tebet, Jakarta Selatan dan menjadi perbincangan warganet.

Dalam video yang diungah akun Twitter @febicil pada Sabtu (26/8/2017), hujan hanya mengguyur satu rumah, sedangkan rumah lain tampak kering. "Ada hujan yang turun di satu rumah doang di Tebet, kiri kanan-nya kering!," kicau akun @febicil.

Mungkinkah hujan turun dalam area sesempit itu? Mari kita tengok penjelasan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

(Baca juga: Hujan Hanya Basahi Satu Rumah di Tebet, Bagaimana Bisa Terjadi?)

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Halimurrahman, mengatakan, luas area yang diguyur hujan bergantung pada kandungan air di suatu wilayah. Hujan sebagai fenomena alam juga dipengaruhi oleh beberapa parameter, antara lain proses konveksi dan angin.

Halimurrahman menuturkan, hujan lokal bisa terjadi dalam luas area sekitar 500 meter. Namun, ukuran tersebut juga sangat relatif. “Sangat dinamis, rata-rata bisa hujan rintik dan bisa juga hujan deras. Sangat tergantung pada kondisi lingkungan yang memungkinkan di daerah itu,” kata Halimurrahman saat dihubungi Kompas.com, Senin (28/8/2017).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan penjelasan seperti itu, turunnya hujan di satu rumah menjadi mungkin terjadi.

Mari kita simak fakta berikutnya. Muzakir, pemilik rumah yang kedatangan hujan, mengaku peristiwa itu berlangsung selama enam jam.

Halimurrahman mengatakan, jika dilihat dari rentang waktunya, hujan yang terjadi diakibatkan oleh awan Kumulonimbus (Cb). Awan Kumulonimbus punya ukuran yang cukup besar. “Awan besar biasanya tidak mungkin satu lokasi sebesar rumah. Kalau hujan skala kecil ya singkat biasanya. Sulit untuk diperoleh faktanya ya secara ilmiah,” ujar Halimurahman.

(Baca juga: Bukan Suhu, Inilah Penyebab Kemarau Tahun ini Terasa Lebih Panas)

Mari sekali lagi melihat fakta dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Deputi Klimatologi BMKG, Mulyadi Rahadi Prabowo, sebelumnya pernah berkata bahwa Indonesia masih mengalami musim kemarau yang baru diperkirakan berakhir pada September mendatang.

Berdasarkan data monitoring BMKG pada 20 Agustus lalu terhadap hari tanpa hujan berturut-turut, mayoritas Pulau Jawa berada dalam klasifikasi panjang. Artinya, sekitar 21-30 hari tidak mendapatkan hujan berturut-turut.

“Saya mendukung itu (penjelasan BMKG). Jadi kalau 10 menit sangat mungkin ada sekumpulan awan kecil kemudian terjadi kondensasi, pengembunan, hujan,” ucap Halimurrahman.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.