Kompas.com - 24/08/2017, 21:47 WIB
Ilustrasi vitamin C NatchaSIlustrasi vitamin C
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com –- Saat sariawan timbul, tak sedikit yang memilih untuk mengonsumsi vitamin C. Dengan alasan praktis, vitamin C kemasan berdosis 1.000 miligram menjadi pilihan sebagian orang. Namun, benarkah demikian?

Sariawan atau Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) merupakan salah satu penyakit yang terjadi di dalam rongga mulut.

Secara khusus, penyebabnya belum diketahui. Dokter spesialis penyakit mulut Dr drg Febrina Rahmayanti, Sp PM mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menjadi disposisi SAR, di antaranya adalah karena tergigit, iritasi, dan genetik.

(Baca juga: Jangan Anggap Semua Luka di Mulut adalah Sariawan, Ini Alasannya)

Cirinya, yakni terdapat ulser atau tukak berwarna putih di bagian dalam, dasar mulut, dan tepi lidah. Ulser juga bisa muncul lebih dari satu dan ukurannya pun beragam, kurang dari 1 cm atau lebih dari itu.

“Harus disamakan persepsi. Sariawan itu yang disebut dengan SAR, karena masyarakat umum sering menyebut gangguan mulut lain dengan sariawan. Kekeringan di pinggir bibir bisa jadi karena anemia,” kata Febrina di RS Pondok Indah, Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Bila imunitas tubuh dalam keadaan baik, SAR dapat sembuh dalam rentang waktu 7-14 hari. Lalu, jika bercak putih berukuran kecil dan tidak disertai rasa sakit, air garam dapat berfungsi sebagai antiseptik natural.

Febrina mengatakan, penggunaan vitamin C berdosis 1.000 miligram dapat membantu dalam proses penyembuhan jaringan akibat SAR. Namun, takaran tersebut harus diikuti dengan konsumsi banyak air putih karena tak sesuai dengan kebutuhan tubuh per hari.

Menurut Febrina, kebutuhan tubuh terhadap vitamin C per hari hanya sebesar 90 miligram. Setelah operasi, jumlahnya bisa meningkat menjadi 1.000-2.000 miligram dalam proses penyembuhan.

Tanpa disertai air putih, konsumsi vitamin C yang berlebihan dapat menimbulkan kelainan pada ginjal. Meski demikian, proses penyembuhan juga dipengaruhi oleh kesehatan secara umum.

“Nutrisinya juga harus diperbaiki. Harus dapat istirahat yang cukup. Manajemen stres juga diperhatikan. Jangan lupa kebersihan mulut dijaga,” ujar Febrina.

Menurut Febrina, dengan menjaga kondisi tubuh dan kebersihan mulut, kemunculan SAR menjadi jarang terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Gempa Terkini: M 6,1 Guncang Talaud, Ini Catatan Gempa yang Pernah Terjadi di Sulawesi Utara

Fenomena
Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Indonesia Didorong Jadi Lumbung Pangan Dunia Lewat Studi Pertanian

Oh Begitu
Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Sejarah Penemuan Termometer: Penemu dan Perkembangannya

Oh Begitu
Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Bagaimana Bulan Bisa Bersinar Terang di Malam Hari?

Oh Begitu
Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.