Kompas.com - 24/08/2017, 08:02 WIB
Ilustrasi rasisme Ekaterina MinaevaIlustrasi rasisme

Ternyata, Poussaint tidak berjalan sendiri. Carl Bell, seorang psikiater di Jackson Park Hospital Family Medicine Clinic dan profesor psikiatri klinis di University of Illinois di Chicago's School of Medicine, juga memandang rasisme ekstrem sebagai bias patologis yang menandai gangguan kepribadian.

Kepada APA, Bell mengusulkan bias patologis ditambahkan ke dalam DSM sebagai ciri gangguan kepribadian. Namun, APA kembali menolak karena organisasi tersebut menilai rasisme selalu ada di masyarakat.

Pada tahun 2006, APA akhirnya mengakui beberapa faktor kejiwaan yang menyebabkan seseorang menjadi rasis, meskipun mereka menegaskan bahwa penelitian lebih jauh terhadap hipotesis tersebut masih diperlukan.

Gangguan mental

Bukti bahwa rasisme adalah wujud gangguan mental terlihat pada pembunuhan yang dilakukan oleh Dylann Roof. Dengan membunuh sembilan orang berkulit hitam di Charleston tahun 2015 lalu, Roof didiagnosis menderita gangguan kepribadian schizoid.

Meski tak selalu berkaitan dengan kekerasan, pengidap skizofrenia dan gangguan bipolar sering mengalami paranoia ekstrim yang berkaitan dengan ras atau etnisitas.

Hasil tes Implicit Association test (IAT) juga menunjukkan bahwa 90 persen orang Amerika punya sedikit bias terhadap orang di luar kelompok mereka. Tes yang dikembangkan sekitar dua dekade yang lalu oleh psikolog sosial di Harvard, University of Virginia, dan University of Washington ini telah diikuti oleh lebih dari 17 juta orang.

Namun, fakta sebaliknya juga perlu diperhatikan. Pengatur pembunuhan masal jutaan Yahudi, Adolf Eichmann, dinyatakan “normal” oleh enam orang psikiater. Bahkan, Eichmann dinyatakan memiliki relasi keluarga idaman.

"Rasis, sayangnya, mengatasi kehidupan sehari-hari dengan baik," kata Sander Gilman, pengajar psikiatri di Emory University dan penulis buku Are Racists Crazy? bersama James M. Thomas, asisten profesor sosiologi di University of Mississippi.

Namun, keputusan tersebut membuat banyak orang merasa tidak nyaman. "Banyak orang berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan mental orang-orang Jerman untuk membiarkan hal ini terjadi," kata James Thomas, asisten profesor sosiologi di University of Mississippi.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Sumber Newsweek

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.