Gejala-gejala Ajal Sudah Dekat Menurut Sains

Kompas.com - 20/08/2017, 20:50 WIB
Ilustrasi Thinkstock/ImageGenerationIlustrasi
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Orang-orang yang telah beberapa kali menghadapi kematian kerabat atau teman mampu menguraikan gejala-gejala. Salah satunya, badan yang terasa lebih dingin, kulit yang terlihat pucat, hingga mimpi dan firasat tentang orang yang akan meninggal.

Sains pun mampu menguraikan gejala-gejala ajal sudah dekat dari hasil pengamatan para ilmuwan, dokter, dan perawat. Beberapa mungkin mirip dengan "common sense" manusia tetapi ada pula yang baru dan mampu mengubah pandangan kita.

Sara Manning Peskin, neurolog dari University of Pennsylvania, dalam artikelnya di New York Times pada 20 Juni 2017 mengungkap 4 gejala kematian yang bisa dilihat dengan jelas. Salah satunya disebut detak-detak jelang ajal atau death rattle.

Gejala itu sebenarnya merupakan ketidakmampuan untuk menelan. Normalnya, lidah terangkat ke atas untuk menelan ludah dan makanan. Katup tenggorok tertutup untuk mencegah bahan apapun masuk saluran pernafasan. Pada orang yang ajalnya telah dekat, lidah gagal mendorong ludah ke belakang.

Baca Juga: Kisah 154 Orang yang Mati Suri Diungkap, Ini yang Mereka Alami

Kegagalan itu memicu munculnya suara mirip dengan orang sesak nafas. Suara itu - apalagi bila berlangsung lama - memunculkan anggapan bahwa orang mengalami kesulitan sebelum mati. Malah kadang dikaitkan dengan kutukan.

Nyatanya, suara itu sebenarnya wajar dan orang yang mendekati ajalnya acapkali tidak merasakan sakit. Untuk mengurangi suara tersebut, dokter biasanya memberikan obat pengurang saliva. Biasanya suara akan mereda setelahnya.

Gejala kematian kedua adalah kesulitan bernafas. Ini memang menibulkan rasa sakit pada orang yang mendekati ajal. Untuk mengurangi, dokter bisa meresepkan opioid seperti morfin. Mengapa orang kesulitan bernafas diberi morfin?

Pada orang yang akan mati, kesulitan bernafas terjadi karena ketidaksinkoran kehendak otak dan kemampuan paru-paru. Morfin bekerja untuk mengatasi ketidaksinkoran itu sehingga akhirnya bisa meredakan sesak nafas yang dialami.

Gejala ketiga yang dituliskan Peskin adalah pergolakan akhir menjelang kematian. Bentuknya? Orang yang hendak mati bisa tiba-tiba berteriak minta ke luar kamar ataupun menangis tersedu-sedu. Kerabat yang melihat hal ini mungkin terheran-heran dan tidak nyaman.

Penyebab fisik dari pergolakan akhir menjelang kematian bisa berupa retensi urin, nafas pendek, rasa sakit, ataupun metabolisme yang tidak normal. Dokter bisa mengurangi hal itu. Meski demikian, ada penyebab non fosik yang bisa memicunya.

Sejumlah orang percaya, pergolakan menjelang kematian merupakan respon eksistensial dari orang yang mendekati kematian. Manusia menangis keras saat lahir, maka menangis keras sebelum meninggalkan kehidupan mungkin sesuatu yang wajar.

Baca Juga: Kematian Bisa Jadi Tak Semenakutkan yang Anda Kira


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X