Kenapa Sultan HB IX Bisa Satukan Warga Jogja Dukung Kemerdekaan?

Kompas.com - 17/08/2017, 20:14 WIB
Sri Sultan Hamengkubuwono IX diambil sumpah jabatan sebagai Wakil Presiden RI pada 24 Maret 1973 di Gedung DPR/MPR RI. Deppen dan IpphosSri Sultan Hamengkubuwono IX diambil sumpah jabatan sebagai Wakil Presiden RI pada 24 Maret 1973 di Gedung DPR/MPR RI.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Minggu pagi tanggal 19 Agustus 1945 kesibukan begitu terasa di Yogyakarta.

Kabar proklamasi baru saja tersiar secara resmi di Yogyakarta melalui berita di surat kabar Sinar Matahari.

Di pagi yang sama pula, Sultan Hamengku Buwono IX merespon kabar tersebut dengan mengirimkan sebuah telegram ke Jakarta. Isinya adalah ucapan selamat serta dukungan kedua penguasa itu terhadap Republik Indonesia.

"Sultan adalah sosok yang anti penjajahan. Sehingga ia memiliki konsep bahwa sebuah bangsa harusnya bebas dari penjajahan," kata Uji Nugroho Winardi, Pengajar di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Tidak berhenti disitu. Sultan Hamengku Buwono IX mengundang perwakilan kelompok masyarakat yang terdiri dari para pemuda, pemuka agama, kepanduan, dan perwakilan pemuda Tionghoa untuk mengadakan pertemuan singkat di Bangsal Kepatihan.

"Beliau menjelaskan dan memberikan pengertian apa itu merdeka. Termasuk menegaskan pentingnya persatuan segala lapisan masyarakat untuk mendukung kemerdekaan. Dan mereka mendukung dengan apa yang dikatakan raja mereka," jelas Uji.

Baca Juga: Karut Marutnya Yogyakarta di Awal Era Kemerdekaan

Bentuk-bentuk dukungan kemudian bermunculan. Di bawah pimpinan K.H. Mathori Al Huda para ulama Bantul menggelar kegiatan pengajian dan khotbah keagamaan menghimbau agar umat Islam dapat membantu biaya perang.

Bantuan itu bisa berupa apa saja, dari pakaian, uang ataupun hal yang dapat bermanfaat dalam perang.

Gereja Pugeran yang berdiri sejak tahun 1934 juga menyediakan dan membuka gereja untuk masyarakat yang rumahnya hancur akibat perang dan menjadi tempat penghubung antara gerilyawan Yogyakarta yang bergerak di dalam dan di luar kota Yogyakarta.

Laskar-laskar juga bermunculan, membentuk pertahanan. Tentara Rakyat Mataram (TRM), Pasukan Alap-alap, Laskar Ekstrimis Oembaran (LEO), Angkatan Perang Sabil, Tentara Pelajar, Laswi (Laskar Wanita), Askar Perang Sabil (APS), Barisan “P”, Gabungan Laskar pimpinan Indratono (Gondomanan 17) adalah beberapa diantaranya.

Respon positif ini tidak terlepas dari Sultan yang bisa merengkuh berbagai kalangan untuk berpartisipasi dalam kemerdekaan. Ia memiliki kharisma sebagai raja yang dihormati melalui sabda-sabdanya tetapi juga sekaligus peduli kepada rakyatnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X