Kompas.com - 25/05/2017, 21:47 WIB
HAT-P-26b exoplanet seukuran Neptunus yang terletak pada jarak 430 tahun cahaya dari Bumi. Exoplanet ini mengorbit bintang yang usianya dua kali lipat Matahari kita. NASA/GSFCHAT-P-26b exoplanet seukuran Neptunus yang terletak pada jarak 430 tahun cahaya dari Bumi. Exoplanet ini mengorbit bintang yang usianya dua kali lipat Matahari kita.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Tim ilmuwan dari University of Exeter dan NASA berhasil mengungkap penemuan baru tentang exoplanet HAT-P-26b. Terletak pada jarak 430 tahun cahaya dari Bumi, exoplanet ini mengorbit bintang yang usianya dua kali lipat Matahari kita.

Planet ini seukuran dengan Neptunus, namun dengan suhu yang lebih hangat karena lebih dekat dengan bintang induknya. Karena hal ini, para astronom menjulukinya sebagai "Neptunus hangat".

Dalam laporan studi yang diterbitkan dalam jurnal Science, para peneliti menjelaskan bahwa atmosfer planet HAT-P-26P  sebagian besar tersusun oleh hidrogen dan helium serta menunjukkan tanda-tanda keberadaan air, meskipun sejatinya planet ini tidak memiliki air di permukaannya.

Komposisi atmosfer tersebut menunjukkan bahwa planet itu terbentuk di dekat bintang induknya, atau relatif baru dalam sistem bintangnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan Neptunus dan Uranus, yang terbentuk pada masa awal sistem tata surya, sehingga terletak di pinggiran cakram debu dan gas yang berputar-putar mengelilingi Matahari.

“Para astronom telah mulai meneliti atmosfer eksoplanet seukuran Neptunus ini, dan sebentar lagi, kami akan menemukan sebuah contoh yang bertolak belakang dengan kecenderungan di tata surya kita,” ujar penulis utama studi, Dr Hanna Wakeford dari Goddard Space Flight Center milik NASA di Greenbelt, Maryland.

Untuk mempelajari atmosfer exoplanet HAT-P-26b, para peneliti menggunakan data transit planet yang dikumpulkan oleh Teleskop luar angkasa Hubble dan Spitzer. Kombinasi data dari kedua teleskop tersebut berhasil menyuguhkan informasi pengukuran air yang cukup akurat dari atmosfer planet. Berkat pengukuran air yang tepat, para peneliti dapat menggunakan tanda-tanda air tersebut untuk memperkirakan kandungan logam atau metalitas exoplanet HAT-P-26b.

Untuk membandingkan planet-planet berdasarkan metalitasnya, para astronom biasanya menggunakan Matahari sebagai patokan. Mirip seperti kita membandingkan kadar kafein pada minuman tertentu dengan secangkir kopi. Jupiter memiliki metalitas sekitar dua hingga lima kali lipat Matahari, sedangkan Saturnus sepuluh kali lipat. Nilai yang relatif rendah ini berarti bahwa kedua planet gas raksasa ini hampir seluruhnya terdiri dari hidrogen dan helium.

Sementara itu, planet es raksasa Neptunus dan Uranus jauh lebih kecil dibanding planet gas raksasa, namun lebih kaya dalam hal unsur-unsur berat, dengan metalitas sekitar 100 kali Matahari. Jadi, bagi empat planet terluar dalam tata surya kita, kecenderungannya adalah semakin rendah metalitas, maka ukuran planet semakin besar.

Untuk membandingkan planet-planet berdasarkan metalitasnya, para astronom biasanya menggunakan Matahari sebagai patokan. Mirip seperti kita membandingkan kadar kafein pada minuman tertentu dengan secangkir kopi. Jupiter memiliki metalitas sekitar dua hingga lima kali lipat Matahari, sedangkan Saturnus sepuluh kali lipat. Nilai yang relatif rendah ini berarti bahwa kedua planet gas raksasa ini hampir seluruhnya terdiri dari hidrogen dan helium.

Sementara itu, planet es raksasa Neptunus dan Uranus jauh lebih kecil dibanding planet gas raksasa, namun lebih kaya dalam hal unsur-unsur berat, dengan metalitas sekitar 100 kali Matahari. Jadi, bagi empat planet terluar dalam tata surya kita, kecenderungannya adalah semakin rendah metalitas, maka ukuran planet semakin besar.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.