Kompas.com - 19/07/2017, 22:09 WIB
Virus Zika yang disebabkan gigitan nyamuk telah menyebar di Asia Tenggara setelah mewabah di Amerika, yang dimulai di Brasil pada awal 2015. James Gathany/CDCP/APVirus Zika yang disebabkan gigitan nyamuk telah menyebar di Asia Tenggara setelah mewabah di Amerika, yang dimulai di Brasil pada awal 2015.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Verily, anak perusahaan dari Alphabet yang juga orangtua Google, sedang melepaskan 20 juta nyamuk di California, Amerika Serikat. Perusahaan yang bergerak di bidang sains kehidupan tersebut ingin melawan Zika dan demam berdarah menggunakan nyamuk yang telah diinfeksi bakteri hingga steril.

Dikenal dengan nama sterile insect technique (SIT), metode pengontrolan populasi serangga secara biologis ini bukan hal baru di dunia sains.

Pada tahun 1954, teknik tersebut telah digunakan untuk memunahkan Cochliomyia dari pulau Curacao. Keberhasilan tersebut kemudian disusul dengan berbagai program lainnya, termasuk penghapusan lalat buah, lalat tsetse, dan ngengat kaktus.

Namun, proyek Verily ini adalah percobaan lapangan SIT terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

(Baca juga: Bukan Singa, Bukan Ular, Inilah Hewan Paling Mematikan di Dunia)

Diumumkan pada bulan Oktober 2016, Verily berkata bahwa untuk melaksanakan insiatif ini, mereka menciptakan sebuah robot dan alogaritme yang mengembangbiakkan sebanyak 1 juta nyamuk setiap minggunya di laboratorium. Setelah itu, nyamuk jantan diinfeksi dengan bakteri Wolbachia yang membuat mereka steril.

Verily juga menekankan bahwa mereka telah menggunakan prosedur seleksi kelamin otomatis yang akan memastikan bahwa hanya nyamuk jantan yang dilepaskan di California. Sebab, nyamuk jantan tidak menggigit manusia dan ketika berpasangan dengan betina, telur yang mereka hasilkan tidak akan bisa tumbuh dan menetas.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Proses seleksi kelamin yang telah diotomatisasi tersebut juga akan membantu mempercepat pelepasan nyamuk dalam jumlah besar.

Insinyur senior Verily, Linus Upson, mengatakan, jika kita benar-benar ingin membantu manusia secara global, maka kita harus bisa memproduksi banyak nyamuk, mendistribusikan ke tempat di mana mereka seharusnya berada, dan mengukur populasinya dengan biaya yang sangat-sangat rendah.

Linus lalu berkata bahwa bila percobaan lapangan ini berhasil, maka percobaan berikutnya akan dilaksanakan di Australia pada akhir tahun ini. “Kita ingin menunjukkan bahwa (metode) ini bisa bekerja di berbagai lingkungan,” ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.