Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/06/2017, 12:05 WIB
Monika Novena

Penulis

KOMPAS.com -- Sekilas, tak ada yang aneh dengan jamur ini. Warnanya yang putih polos terlihat tidak berbahaya atau bahkan, cukup enak untuk dikonsumsi.

Namun, jangan mudah tertipu dengan spesies jamur bernama Amanita phalloides ini. Dikenal dengan nama death cap yang berarti topi kematian, jamur ini mampu membunuh orang yang mengonsumsinya. Kemampuan ini juga membuat death cap termasuk dalam daftar jamur paling berbahaya di dunia.

(Baca juga: Jamur Madu Pembunuh Tanaman, Mahluk Terbesar dan Tertua di Muka Bumi)

Gejala awal yang akan di rasakan ketika mengonsumsi jamur ini adalah rasa mual, kemudian kerusakan organ hati terjadi dalam hitungan hari.

Jumlah kematian yang pasti diakibatkan oleh jamur ini tidak jelas. Akan tetapi, menurut California Poison Control System, mayoritas kasus keracunan jamur paling parah sepanjang November 2015 hingga Oktober 2016 disebabkan oleh death cap.

Ketidaktahuan mengenai spesies jamur mematikan ini juga seringkali menjadi penyebab utama kasus keracunan.

Dalam laporan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention, dibeberkan bahwa tiga orang yang mengonsumsi jamur ini membutuhkan transplantasi hati. Sebab, racun yang terkandung dalam jamur death cap diam-diam menghancurkan hati dalam rentang beberapa hari saja.

Lalu, salah satu korban juga merupakan seorang bayi berusia 18 bulan. Kejadian ini menyebabkan pembengkakan otak yang berbuntut gangguan neurologis permanen.

(Baca juga: Suka Jamur? Inilah Cara Terbaik untuk Memasaknya)

Walaupun kasus keracunan ini terjadi di California, Amerika Serikat, death cap bisa tumbuh dan tersebar di manapun, kecuali Antartika.

"Jamur ini berukuran besar, indah, dan terlihat lezat, tetapi mematikan. Racun ini juga tidak bisa dihancurkan dengan dimasak," tulis Asosiasi Mikologi Amerika Utara memperingatkan, seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (6/6/2017).

Hingga kini, menurut California Poison Control System, belum ada obat yang secara spesifik digunakan untuk mengobati kasus keracunan jamur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya

Mengenal Monster Gila, Kadal Berbisa yang Tewaskan Pria di Colorado

Mengenal Monster Gila, Kadal Berbisa yang Tewaskan Pria di Colorado

Oh Begitu
Mengapa Makan Kacang Bikin Sering Kentut?

Mengapa Makan Kacang Bikin Sering Kentut?

Oh Begitu
4 Minuman yang Tidak Boleh Diminum Saat Sakit Tenggorokan

4 Minuman yang Tidak Boleh Diminum Saat Sakit Tenggorokan

Oh Begitu
Benarkah Terong Ungu Bermanfaat untuk Jantung?

Benarkah Terong Ungu Bermanfaat untuk Jantung?

Oh Begitu
Apa yang Terjadi pada Bangkai Paus yang Sudah Mati?

Apa yang Terjadi pada Bangkai Paus yang Sudah Mati?

Oh Begitu
Mikroplastik Ditemukan di Plasenta Manusia, Apa Efeknya?

Mikroplastik Ditemukan di Plasenta Manusia, Apa Efeknya?

Fenomena
Terasa Gerah Sebelum Hujan, Apa Penyebabnya?

Terasa Gerah Sebelum Hujan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Everest Bukanlah Gunung Tertinggi

Everest Bukanlah Gunung Tertinggi

Oh Begitu
Tertawa Berlebihan Dapat Menyebabkan Kematian

Tertawa Berlebihan Dapat Menyebabkan Kematian

Kita
Kapan Bulan Terbentuk?

Kapan Bulan Terbentuk?

Oh Begitu
Manfaat Berhenti Merokok Vape untuk Paru-paru

Manfaat Berhenti Merokok Vape untuk Paru-paru

Oh Begitu
Manusia Purba Neanderthal Gunakan Lem untuk Buat Peralatan

Manusia Purba Neanderthal Gunakan Lem untuk Buat Peralatan

Fenomena
Seperti Apa Rumah di Zaman Yunani Kuno?

Seperti Apa Rumah di Zaman Yunani Kuno?

Oh Begitu
Seberapa Tinggi Burung Merak Terbang?

Seberapa Tinggi Burung Merak Terbang?

Oh Begitu
Apa Bahayanya jika Tidak Pernah Mencuci Bantal?

Apa Bahayanya jika Tidak Pernah Mencuci Bantal?

Oh Begitu
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com