Kompas.com - 10/06/2017, 21:05 WIB
Julia Perez berpose ketika menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Jakarta, Sabtu (4/3/2017). Perempuan yang akrab disapa Jupe itu tengah berjuang melawan kanker serviks. Dok Pribadi/InstagramJulia Perez berpose ketika menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Jakarta, Sabtu (4/3/2017). Perempuan yang akrab disapa Jupe itu tengah berjuang melawan kanker serviks.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Perjuangan Julia Perez atau Jupe melawan kanker serviks berakhir hari ini, Sabtu (10/6/2017). Kematiannya tidak hanya memukul keluarga dan teman-teman terdekatnya, tetapi juga masyarakat Indonesia.

Namun, kisah Jupe tidak boleh hanya menjadi bahan air mata saja. Perjuangan pelantun Aku Rapopo ini harus menjadi alarm keras bagi wanita untuk melakukan pecegahan kanker serviks sejak dini.

(Baca juga: Dua Hari Sebelum Meninggal Dunia, Julia Perez Jalani Operasi Lagi)

Kanker serviks atau leher rahim seperti yang diderita oleh Jupe sejatinya adalah satu-satunya kanker yang telah diketahui penyebabnya, yakni human papilloma virus (HPV). Oleh karena itu, vaksinasi terhadap HPV merupakan langkah yang paling efektif dalam mencegah terjadinya kanker serviks.

Selain efektif mencegah kanker serviks hingga 100 persen selama 15 tahun, vaksinasi terhadap HPV juga akan melindungi wanita dari kutil kelamin, kanker vagina, vulva, anus, dan mulut sehingga dari sisi biaya akan lebih murah daripada mengobati.

Namun, karena fungsinya hanya untuk mencegah, vaksin HPV harus dilakukan sebelum infeksi terjadi.

American Cancer Society merekomendasikan vaksinasi terhadap HPV dilakukan secara rutin sejak usia 11 atau 12 tahun. Bagi wanita dewasa yang belum divaksin atau tidak menyelesaikan serinya, vaksinasi HPV juga dianjurkan hingga usia 26 tahun.  Lebih tua dari usia tersebut, vaksin bisa jadi kurang efektif dalam melindungi dari risiko kanker.

Dikutip dari artikel Kompas.com 27 Maret 2017, Prof Andrijono, SpOG (K), staf di Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, berkata bahwa semenjak dijadikan program nasional di Amerika Serikat dan Australia, angka kanker serviks di kedua negara tersebut turun sebanyak 74 persen dalam waktu 10 tahun.

Di Indonesia sendiri, program vaksinasi terhadap virus HPV sudah dilakukan di DKI Jakarta bagi siswi kelas V SD sejak tahun 2016 dan akan diperluas hingga Kabupaten Gunung Kidul dan Ponorogo Yogyakarta, serta Kota Surabaya Jawa Timur pada tahun ini.

(Baca juga: Setelah DKI, Pemberian Vaksin HPV Akan Diperluas)

Selain vaksinasi, langkah ampuh lain yang dapat diambil wanita untuk melindungi diri dari kanker serviks adalah melakukan pemeriksaan Pap smear dan tes HPV untuk mencari lesi pra-kanker. Jika ditemukan, lesi pra-kanker akan diobati agar tidak berkembang menjadi kanker invasif.

Untuk menentukan jadwal pemeriksaan Pap smear, wanita dapat berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun, anjuran menyebutkan bahwa pap smear sebaiknya dilakukan dalam tiga tahun sejak hubungan intim pertama dan diulang tiga tahun sekali hingga usia 30 tahun.

Setelah usia 30 tahun, dokter akan menganjurkan Anda untuk mengulangnya dua hingga tiga tahun kemudian jika hasil pemeriksaan normal dan Anda ditemukan tidak memiliki faktor risiko terinfeksi HPV.

Sebaliknya, bila hasil pemeriksaan menunjukkan hasil positif, Anda bisa diminta mengulangi Pap smear beberapa bulan mendatang atau melakukan pemeriksaan lanjutan.

(Baca juga: Lakukan Ini untuk Mencegah Kanker Serviks Seperti yang Diderita Julia Perez)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X