Kompas.com - 15/04/2017, 09:58 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Imunisasi HPV merupakan pencegahan primer kanker leher rahim (serviks). Di Indonesia, program vaksinasi bagi siswi kelas V SD sudah dilakukan di DKI Jakarta pada tahun 2016 dan akan diperluas ke provinsi lain.

Menurut Widyastuti, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pemberian vaksin HPV (human papilloma virus) bagi siswi di DKI Jakarta tahun lalu mencapai 92 persen dari target atau lebih dari 66.000 siswi.

Vaksin HPV diberikan dua kali. Dosis pertama saat anak kelas 5 SD, dan dosis berikutnya di kelas 6.

“Respon masyarakat sangat baik. Cakupan vaksinasi mencapai 92 persen meski baru pertama kali dimulai,” kata Widyastuti dalam diskusi media di Jakarta (11/4/2017).

Memang, sebagian orangtua masih ragu, khawatir akan keamana vaksin, apalagi belum lama ini merebak kasus vaksin palsu. "Yang pasti, vaksin yang diberikan gratis bukanlah vaksin yang jelek. Gratis untuk warga, tapi dibeli oleh anggaran dari Kemenkes,” ucapnya.

Saat ini vaksinasi HPV belum masuk dalam program imunisasi nasional dan masih dalam demonstrasi serta pengumpulan data.

“Bukan uji coba keamanan vaksin, melainkan etik, apakah bisa jalan dengan program. Kita pilih provinsi yang performanya baik dan cukup kuat anggaran operasionalnya, sehingga kita pilih DKI. Apalagi DKI sudah punya rencana,” tutur dr. Prima Yosephine, Kepala Subdirektorat Imunisasi Kementrian Kesehatan RI.

Tahun ini, menurut Prima, imunisasi HPV akan digelar di Kabupaten Gunung Kidul dan Ponorogo Yogyakarta, serta Kota Surabaya Jawa Timur.

"Tahun 2019 akan dilakukan di Makasar dan Menado. Berikutnya didiskusikan lagi apakah sudah bisa masuk program nasional," kata Prima.

Menurut penjelasan Prof.Andrijono, Sp.OG (K), vaksinasi HPV perlu diberikan di usia 10 tahun karena akan lebih efektif.

“Kalau vaksinasi dilakukan saat lulus SMA, kita kecolongan. Bila diberikan di usia 10 tahun, anak sudah terlindungi sejak dini. Ini membuat anak terlindungi sebelum dia aktif secara seksual,” ujar Andrijono.

Selain itu, vaksinasi di usia muda juga menunjukkan efikasi yang sangat baik. Di usia 9-13 tahun, vaksin cukup diberikan dua suntikan. "Perlindungannya terhadap kanker HPV hampir 100 persen," katanya.

Keamanan vaksin HPV telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Menurut Andrijono, pada program vaksinasi di Jakarta tahun lalu, tidak ada keluhan efek samping, kecuali bengkak dan nyeri di lokasi suntikan. Di seluruh dunia pun tidak ditemukan efek samping yang serius.

Baca juga: Mengenal Gejala Kanker Serviks Seperti yang Diderita Jupe

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.