Kompas.com - 09/06/2017, 12:05 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Sekelompok pakar astronomi dari Czech Academy of Sciences baru saja mengumumkan bahwa risiko serangan asteroid ke bumi meningkat. Hal ini dikonklusikan setelah mereka mengamati aliran meteoroid Taurid yang biasanya memproduksi hujan meteor di bulan Oktober dan November.

Fenomena meteor sendiri terjadi ketika orbit bumi masuk ke aliran puing-puing yang ditinggalkan oleh komet Encke. Biasanya puing-puing ini berukuran kecil dan tidak mengancam bumi.

Akan tetapi, para pakar astronomi dari Czech Academy of Sciences menemukan cabang baru di mana dua asteroid, 2015 TX24 dan 2005 UR yang berukuran 200 dan 300 meter, berada.

Kedua asteroid tersebut sebenarnya tidak mengarah ke bumi, tetapi keberadaan mereka bisa menjadi pertanda adanya asteroid berukuran serupa yang belum teridentifikasi oleh para pakar astronomi.

Menurut analisa mereka, asteroid berukuran besar memiliki struktur yang lemah. Akan tetapi, dengan ukuran yang mencapai ratusan meter, asteroid tidak akan hancur dengan mudah ketika melewati atmosfer bumi.

Seperti yang diungkapkan dalam studi oleh American Geophysical Union, asteroid hanya perlu berukuran 18 meter untuk mencapai bumi. Ukuran tersebut hampir sama dengan asteroid yang menyerang kota Chelyabinsk, Rusia, pada tahun 2013 dan menyebabkan ratusan orang terluka akibat pecahan kaca.

Bayangkan bila asteroid beukuran ratusan meter mencapai bumi. Tentu dampaknya akan luar biasa mengerikan.

Disampaikan melalui jurnal Astronomy & Astrophysics, para peneliti berujar bahwa karena asteroid yang berukuran puluhan atau ratusan meter bisa membahayakan manusia, bahaya dampaknya meningkat secara signifikan ketika bumi bertemu dengan cabang Taurid baru yang dibelokkan oleh gravitasi planet Jupiter setiap beberapa tahun sekali.

Oleh karena itu, mereka pun menghimbau agar studi lebih lanjut dilakukan pada aliran Taurid untuk mencari asteroid yang dapat mengancam bumi.

Untungnya, sejauh ini belum ada asteroid berbahaya yang ditemukan.

Wahana antariksa Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) selalu mengantisipasi kemungkinan terjadi tabrakan berbahaya antara bumi dengan partikel antariksa berukuran besar dengan menggunakan sistem monitor bernama Sentry. Sistem tersebut secara rutin memindai luar angkasa untuk mencari asteroid yang akan menabrak bumi dalam waktu 100 tahun ke depan.

(Baca juga: Inilah yang Harus Anda Lakukan Jika Asteroid Jatuh ke Bumi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber seeker

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Pertambangan Batu Bara Disebut Hambat Indonesia Capai Target Perlindungan Keanekaragaman Hayati

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.