Kompas.com - 05/06/2017, 04:03 WIB
Ilustrasi Ilustrasi
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Pernahkah Anda mendengar mengenai The Matrix Experiment? Pada tahun 2002, Professor Dan Ariely dan koleganya dari Duke University melakukan sebuah eksperimen untuk mengukur kejujuran manusia.

Mereka meminta lebih dari 40.000 partisipan untuk menjawab 20 pertanyaan matematika sederhana dalam waktu lima menit dan menjanjikan 1 dollar AS untuk setiap jawaban yang benar. Para partisipan lalu diminta untuk menulis dalam selembar kertas berapa jawaban mereka yang benar dan memasukkan lembar jawaban asli ke dalam penghancur kertas.

Tanpa mereka ketahui, ternyata mesin penghancur tidak benar-benar menghancurkan kertas tersebut dan para peneliti membandingkan klaim partisipan dengan jawaban mereka yang sebenarnya.

Menurut Anda, berapa banyakkah orang yang menjawab dengan jujur? Para peneliti menemukan bahwa hampir 70 persen dari partisipan berbohong. Mayoritas dari mereka hanya mampu menjawab empat, tetapi menklaim enam.

(Baca juga: Inilah Penjelasan Ilmiah di Balik Tawa Anda)

The Matrix Experiment bersama eksperimen-eksperimen lainnya menunjukkan bahwa bersikap licik dan tidak jujur adalah bagian dari manusia. Diulas dalam National Geographic edisi Juni, penulis Yudhijit Bhattacharjee mengeksplorasi alasan kita, sebagai manusia, berbohong.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para peneliti yang diwawancarai oleh Bhattacharjee berpendapat bahwa manusia sudah berbohong sejak mulai bicara. “Kemampuan untuk memanipulasi orang lain tanpa menggunakan kekuatan fisik adalah sebuah keunggulan dalam kompetisi untuk sumber daya dan pasangan, (hal ini) mirip dengan evolusi strategi penipuan dalam dunia hewan seperti kamuflase,” tulis Bhattarcharjee.

Kebohongan bahkan telah ditemukan pada anak-anak yang masih berusia dua tahun, walaupun cara mereka cukup kasar karena masih dalam proses belajar untuk berbohong.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Brock University di Kanada, anak-anak diminta untuk menebak identitas sebuah mainan yang disembunyikan oleh para peneliti di dalam sebuah kantung. Para peneliti kemudian pura-pura meninggalkan ruangan untuk mengangkat telepon dan meminta partisipan untuk tidak mengintip.

Seperti yang Anda duga, kebanyakan anak-anak tidak bisa menahan diri untuk tidak mengintip. Namun, yang menarik dalam eksperimen ini adalah perbedaan dari reaksi mereka ketika ditanya oleh para peneliti. Mayoritas anak balita mengaku bahwa mereka telah mengintip, tetapi 80 persen dari anak berusia delapan tahun berbohong dan menjawab tidak.

(Baca juga: Ternyata, Cara Kita Menghibur Sesama Mirip dengan Simpanse)

Seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak juga menjadi lebih canggih dalam menutupi perilaku nakal mereka. Bila balita yang berbohong memberikan jawaban yang benar mengenai identitas mainan tersebut, anak-anak yang lebih tua dengan sengaja memberi jawaban yang salah.

Menariknya, Bhattarje menulis bahwa meskipun semua manusia tumbuh menjadi pembohong, kita juga mahluk yang paling mudah percaya. Inilah yang membuat kita bisa tetap  menjalin hubungan sosial satu sama lain.

“Tanpa adanya kepercayaan implisit yang kita letakkan pada komunikasi manusia, kita akan lumpuh sebagai individu dan berhenti menjalin hubungan sosial,” tulisnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X