Kompas.com - 03/06/2017, 21:49 WIB
Otan, bayi orangutan yang ditemukan saat sedang minum disebuah kanal buatan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. KOMPAS.com/ YOHANES KURNIA IRAWANOtan, bayi orangutan yang ditemukan saat sedang minum disebuah kanal buatan di kawasan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Manusia dan simpanse ternyata lebih mirip daripada yang diduga sebelumnya. Ketika dihadapkan dengan korban agresi, baik manusia mau pun simpanse memiliki respons yang sama.

Hal ini diungkapkan oleh Marie Lindegaard, seorang peneliti di Netherlands Institute for the Study of Crime and Law Enforcement, yang mengamati sikap korban dan saksi dalam 22 video rekaman aksi perampokan. Secara total, penelitian ini melibatkan 249 orang dan 3.680 kemungkinan interaksi.

Menariknya, salah satu rekaman diambil di supermarket langganan Lindegaard. Empat laki-laki berpakaian hitam dan bersenjata menodongkan senjata ke wajah karyawan perempuan dan merampok uang yang ada.

Setelah perampokan selesai, beberapa pegawai lelaki yang berada di dekat korban menghampiri dan berbicara sebentar. Sementara itu, seorang pegawai perempuan lainnya meninggalkan konter rokok tempanya berjaga dan menghampiri korban untuk merangkulnya dengan intens. Korban pun mulai menangis.

“Dia memeluk lengan korban untuk waktu yang sangat lama, seakan-akan korbannya adalah bayi kecil,” kata Lindegaard seperti yang dikutip dari The Washington Post, Sabtu (3/6/2017).

(Baca juga: Kasih Induk Orangutan Sebesar Kasih Ibu, Ini Buktinya)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam penelitiannya yang dipublikasikan di jurnal Plos One pada hari Rabu (31/5/2016), Lindegaard dan koleganya menulis bahwa ketika pelaku kekerasan memegang dan menggunakan senjata untuk mengancam korban, kemungkinan terjadinya konsolasi meningkat.

Perempuan juga ditemukan tiga kali lipat lebih berempati dari pada laki-laki. Lalu, seorang kolega akan beberapa kali lipat lebih mungkin untuk menenangkan korban daripada orang asing. Faktor ini disebut oleh para peneliti sebagai “kedekatan sosial”.

Temuan tersebut dan berbagai peristiwa lainnya menjukkan bahwa manusia cukup serupa dengan primata lainnya, terutama dalam perilaku memberikan konsolasi. Hanya beberapa spesies yang berhasil didokumentasikan secara ilmiah menghibur korban agresi: anak manusia, simpanse, bonobo, dan gorila.

Oleh karena itu, penelitian baru Lindegaard juga menjadi yang pertama untuk mengamati perilaku ini pada orang dewasa. Dia berkata bahwa selama ini, penelitian yang menyimpulkan bahwa perilaku konsolasi ada pada simpanse dan manusia tidak menggunakan manusia dewasa sebagai sampel mereka, melainkan anak-anak.

(Baca juga: Inilah Penjelasan Ilmiah di Balik Tawa Anda)

Menanggapi penelitian ini, Frans de Waal, seorang pakar primata dari Emory University, meminta lebih banyak studi berdasarkan observasi seperti ini, bukannya survei seperti yang sering kali dilakukan.

Dia mengatakan, banyak penelitian manusia berdasarkan pertanyaan yang tidak menemukan perbedaan empati pada jender. Namun, dalam observasi kehidupan nyata, perbedaan mencolok di antara jender telah ditemukan pada anak-anak. Sebagai contoh, anak perempuan lebih sering berempati dari pada anak laki-laki.

"Reaksi yang diperlihatkan saksi, seperti merangkul dan menyentuh korban, sangat mirip (dengan primata lainnya). Hal ini merupakan respons empati yang prototipikal dari primata," ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X