Kompas.com - 10/05/2017, 16:07 WIB
Foto sinar-X dari gelombang Kelvin-Helmholtz dekat gugusan galaksi Perseus. Foto sinar-X dari gelombang Kelvin-Helmholtz dekat gugusan galaksi Perseus.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Para peneliti baru saja menemukan gelombang gas ultra-panas sedang melewati gugusan galaksi Perseus. Gas tersebut diduga sebagai yang terbesar dalam sejarah penemuan manusia.

Dengan rentang sekitar 200.000 tahun cahaya, gas tersebut berukuran dua kali galaksi Bima Sakti dan kemungkinan besar telah berjalan di angkasa selama miliaran tahun.

Menurut para peneliti, gelombang tersebut berjenis gelombang Kelvin-Helmholtz yang muncul ketika dua cairan berbeda berjalan dengan kecepatan berbeda dan melewati satu sama lain. 

(Baca juga: Cassini Memotret 'Badai Raksasa' di Saturnus dalam Aksi Bunuh Dirinya)

Gas tersebut ditemukan ketika para peneliti sedang menggunakan data dari Chandra X-ray Observatory milik NASA untuk mengamati gugusan galaksi Perseus yang terletak dalam konstelasi Perseus, sekitar 240 juta tahun cahaya jauhnya dari Bumi dan berdiameter sekitar 11 juta tahun cahaya.

Gugusan tersebut terdiri dari sejumlah galaksi yang dikepung oleh awan gas panas yang hanya dapat dilihat dalam sinar-X.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat tengah mempelajari gambar sinar-X dari klaster Perseus, para peneliti menemukan sesuatu yang aneh. Sebuah bentuk yang tampak seperti teluk terus muncul tanpa asal yang jelas.

Pada awalnya, para peneliti berpikir bahwa bentuk tersebut ada hubungannya dengan lubang hitam di wilayah tersebut. Namun, dengan menggunakan data dari Chandra X-ray Observatory milik NASA yang dikombinasikan dengan observasi radio dan simulasi komputer, mereka menemukan bahwa bentuk tersevut sesungguhnya merupakan gelombang raksasa.

"Kami berpikir bahwa bentuk teluk yang kami lihat di Perseus adalah bagian dari gelombang Kelvin-Helmholtz, mungkin yang terbesar dan belum teridentifikasi," kata ketua peneliti Stephen Walker dari Goddard Space Flight Centre milik NASA.

(Baca juga: Mengenal Cassini, Wahana Antariksa yang Menguak Misteri Saturnus)

Lalu, bagaimana gelombang sebesar itu bisa terjadi?

Berdasarkan simulasi komputer mereka, para peneliti menduga bahwa miliaran tahun yang lalu, gugusan galaksi dengan daerah pusat gas yang mencapai temperatur sekitar 30 juta derajat Celsius dan dikelilingi oleh area gas dengan temperatur tiga kali lebih panas.

Namun, gugusan galaksi yang lebih kecil menyentuh Parseus dan bercampur menjadi satu, menciptakan gas dingin berbentuk spiral yang terus membesar.

Lebih dari 2,5 miliar tahun berikutnya, gas telah menyebar sekitar 500.000 juta cahaya dari pusat gugusan dam membuat gelombang besar bergulir di tepian Perseus selama ratusan juta tahun sebelum akhirnya menghilang.

"Gelombang yang kita identifikasikan masih terkait dengan gugusan yang lebih kecil dan menunjukkan bahwa aktivitas penggabungan yang menghasilkan struktur raksasa ini masih berlangsung," ujar Walker.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.