Kompas.com - 08/05/2017, 09:07 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Pada zaman dahulu, manusia mulai mengadopsi dan membudidayakan anjing untuk memperkerjakan mereka. Oleh karena itu, anjing pun berevolusi mengikuti tugas spesifik mereka, ada yang berkemampuan untuk melawan predator dan ada yang pandai dalam menggembala hewan ternak.

Sekelompok peneliti baru saja mempublikasikan pohon evolusi anjing dalam jurnal Cell Reports. Pohon evolusi tersebut mengurutkan susunan genetika dari 161 jenis anjing untuk mengetahui nenek moyang mereka.

NIH Dog Genome Project Peta evolusi anjing

Elaine Ostrander dari cabang genetika kanker dan genomik komparatif di National Human Genome Research yang menulis studi tersebut mengatakan, yang kita temukan adalah empat kelompok penggembala berbeda-beda yang dikembangkan di bagian dunia yang berbeda-beda di waktu yang berbeda-beda juga.

Dia melanjutkan, hal ini sangat masuk akal, karena anjing yang Anda perlukan untuk mengarahkan banteng di lembah tentu harus memiliki kemampuan yang berbeda dari anjing yang menggembalakan kambing di area berbatu-batu, yang juga akan berbeda dari anjing yang digunakan untuk menggembalakan domba di peternakan.

(Baca juga: Riset Ungkap Fakta Tak Terduga tentang Asal-usul Anjing)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Studi ini juga menemukan bahwa ketika manusia bermigrasi, anjing peliharaan mereka juga ikut bermigrasi.

Anjing Dunia Baru, misalnya. Spesies anjing purba ini bermigrasi melewati  jembatan darat Bering bersama nenek moyang suku Indian. Alhasil, gen anjing ini ditemukan pada beberapa jenis anjing modern dari Amerika Tengah dan Selatan seperti anjing tak berbulu dari Peru dan Xoloitzcuintle.

“Komunitas kami sebenarnya telah menduga mengenai adanya gen Anjing Dunia Baru sebelum melihat DNA mitokondria, tetapi ini adalah kali pertama sebuah studi mampu menunjukkannya dan menggali informasi mengenai jenis anjing dan waktu kemunculan mereka dalam sejarah,” kata Ostrander.

(Baca juga: Teka-teki Terpecahkan, Anjing Benar-benar Bisa Memahami Kata-kata Manusia)

Namun, lebih dari sekenal mengetahui nenek moyang anjing modern, studi ini juga membuka informasi mengenai evolusi penyakit pada jenis anjing-anjing tertentu dan mencegah penurunannya.

Selain itu, Ostrander juga berkata bahwa metode ini dapat diaplikasikan kepada gen manusia untuk manfaat yang sama juga.

“Kadang masalahnya adalah gen yang sama atau mutasi yang sama, kadang metode ini menunjukkan jalan yang tidak kita kenal sebelumnya yang ternyata penting untuk penyakit manusia. Metode ini adalah cara yang luar biasa untuk menemukan bagian dari teka-teki genetik manusia yang hilang,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.