Mitos Terbesar tentang Gigitan Mematikan Komodo, Jangan Lagi Dipercaya

Kompas.com - 04/05/2017, 15:31 WIB
Satwa endemik Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Rinca, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012).   KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESSatwa endemik Komodo (Varanus komodoensis) di Pulau Rinca, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (4/6/2012). KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Pada tahun 1969, ahli biologi Amerika bernama Walter Auffenberg datang ke Indonesia untuk meneliti Komodo (Varanus komodoensis), hewan yang kerap dikatakan kadal terbesar di dunia.

Auffenberg mengamati perilaku hewan berukuran sekitar 3 meter itu dan memublikasikan hasil risetnya dalam buku yang diterbitkan tahun 1981.

Buku itu memang memuat banyak pengetahuan tentang komodo. Namun pada saat yang sama, buku itu juga memuat mitos yang masih banyak dipercaya hingga kini: komodo mematikan karena punya mulut kaya bakteri.

Sejumlah penelitian terbaru mengungkap, hal yang banyak termuat dalam buku teks, film dokumenter, dan pengumuman di kebun binatang itu salah dan tidak didasari hasil penelitian yang kuat.

Baca Juga: Komodo, Kadal Raksasa Paling Berbahaya di Dunia

Kemunculan mitos itu diawali dari pengamatan Auffenberg pada kerbau air yang diserang komodo. Ia melihat, kerbau itu mengalami infeksi hebat setelah digigit.

Berdasarkan pengamatan itu, Auffenberg menyimpulkan, komodo membunuh mangsa dengan bantuan bakteri mematikan di mulutnya.

Namun lewat hasil penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2009, Bryan Fry, peneliti dari University of Queensland di Australia menyanggah, "Itu hanya sebuah dongeng memikat yang diterima begitu saja seperti sabda."

Fry memindai kepala komodo untuk melihat morfologi dan strukturnya. Ia menemukan, komodo memiliki kelenjar racun yang menghasilkan bisa mematikan.

Menurut Fry, komodo membunuh dengan taktik mencengkraman, merobek, dan menyuntikkan racun. Komodo menggigit dengan gigi yang bergerigi dan menarik kembali dengan otot leher yang kuat. Hasilnya: luka menganga.

Bersamaan dengan luka, komodo menyuntikkan racunnya. Senyawa secara cepat menurunkan tekanan darah dan membuat mangsanya syok.

Baca Juga: Gigitan Komodo Tak Lebih Kuat dari Kucing

Bekerjasama dengan Ellie Goldstein dari Sekolah kedokteran Universitas California di Los Angeles, Fry juga melakukan studi keragaman bakteri pada mulut komodo.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X