Kompas.com - 21/03/2017, 11:50 WIB
EditorLusia Kus Anna

Tentu saja orang yang sekarat karena AIDS tidak bisa menunggu selama itu. Di bawah tekanan publik, akhirnya FDA meninjau AZT lewat jalur cepat.

Para ahli kemudian mulai menginjeksi AZT pada pasien. Target awalnya untuk melihat apakah aman, dan walau menyebabkan beberapa efek samping (gangguan sistem imun, mual, pusing, dan sakit kepala), tetapi obat ini relatif aman.

Mereka juga mulai menguji efektivitas obat. Dalam sebuah uji kontroversial, FDA meneliti pada 300 orang yang sudah terdiagnosis AIDS. Penelitian dilakukan secara acak dengan memberikan kapsul AZT atau pil gula pada pasien untuk dibandingkan hasilnya.

Setelah 16 minggu, Burroughs Wellcome mengumumkan mereka menghentikan percobaan karena ada bukti kuat komponen dalam obat bekerja. Dari satu kelompok hanya satu orang meninggal, dan kelompok lain 19 orang.

Obat AZT kemudian dianggap sebagai penemuan besar dan menjadi "cahaya di ujung lorong". FDA kemudian didesak untuk menyetujui obat AIDS ini pada 19 Maret 1987. Sebuah rekor karena prosesnya hanya 20 bulan.

Sayangnya, hasil penelitian itu belakangan diketahui kontroversial. Misalnya, para dokter tidak melakukan cara standar untuk mengatasi efek lain dari AIDS, seperti diare, pneumonia, dan sebagainya. Ada juga pasien yang semuanya diberikan obat aktif, bukan zat gula.

Bila dilihat era sekarang, tentu pemberian persetujuan FDA itu kontroversial. Tetapi, pada masa di mana pilihan terapi AIDS sangat terbatas, dibutuhkan tindakan darurat. Jika ada satu obat yang efektif, walau punya banyak keterbatasan, dianggap sebagai kemajuan.

Harga obat itu juga tidak murah, dibutuhkan sekitar 8000 dollar AS pertahun. Biaya yang tidak murah bagi pasien yang tak ditanggung asuransi.

Setahun kemudian, semakin jelas bahwa tidak ada satu obat tunggal untuk bisa mengatasi HIV. Pasien yang mendapat AZT mulai mengalami peningkatan level virus, namun virusnya sudah bermutasi dan mulai kebal pada obat.

Dibutuhkan obat lain untuk mengatasinya. Belum lagi efek sampingnya pada gangguan jantung atau berat badan. Ini membuat banyak orang frustasi karena semua hal yang didesain untuk melawan virus HIV sepertinya toksik.

Saat ini, ada beberapa kelas obat HIV, masing-masing didesain untuk menghambat virus pada satu titik spesifik di siklus hidupnya.

Dengan kombinasi obat, kemungkinan virus bisa ditekan semakin besar, sehingga kemampuannya untuk memperbanyak, menginfeksi, dan menyebabkan kematian, semakin rendah.

Obat-obatan yang disebut sebagai anti-retroviral (ARV) tersebut memungkinkan orang yang terdiagnosis HIV hidup produktif dan relatif sehat, selama mereka rutin mengonsumsi obat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber TIME
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.