Misi Kevin Kumala Mencegah Bumi Jadi Planet Plastik

Kompas.com - 01/03/2017, 18:42 WIB
Ragam produk bioplastik Avani Eco. Selain kantung plastik dari bahan singkong, perusahaan start-up itu juga menghasilkan papercup, sedotan, dan styrofoam yang bisa terurai. Yunanto Wiji UtomoRagam produk bioplastik Avani Eco. Selain kantung plastik dari bahan singkong, perusahaan start-up itu juga menghasilkan papercup, sedotan, dan styrofoam yang bisa terurai.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Dari 2013 - 2016, Kevin serius melakukan penelitian laboratorium untuk menghasilkan bioplastik dengan ketahanan tinggi. Kandungan dalam pati yang memengaruhi kualitas bioplastik adalah kandungan selulosa dan amilosa. "Bisa dibilang selama 3 tahun itu saya lakukan sensitivity analysis berapa persen selulosa dan amilosanya," katanya.

Kevin mengaku, ada tantangan besar untuk mengubah gagasannya menjadi kenyataan. Butuh riset yang tekun untuk menghasilkan bioplastik berkualitas sehingga biaya tinggi pun tak terelakkan. Kevin mengaku sempat kesulitan mendapatkan dana cukup untuk risetnya.

Avani Eco yang didirikannya mengalami titik balik pada Februari 2016. Kala itu, Kevin merasa produknya siap dipasarkan. ia pun menawarkan bioplastiknya pada pelaku industri perhotelan dan restoran dan berhasil. Kien pertamanya adalah Ritz Carlton Hotel.

Kampanye di media sosial lewat video meminum larutan bioplastik dan pendekatan ke komunitas menambah konsumen bioplastik. Hotel Marriot dan sejumlah kafe kini memakai produk Avani Eco. Garuda Indonesia memakai bioplastik Avani Eco untuk pembelanjaan dalam penerbangannya.

Kapasitas produksi Avani Eco meningkat pesat dalam setahun, dari 0,2 ton per hari pada awal 2016 menjadi 4 ton per hari saat ini. 80 persen hasil produksi diekspor. Ekspor bukan hanya ke negara barat, tetapi juga ke negara seperti Rwanda dan Kaledonia Baru.

Produk bioplastik pun mulai beragam. "Kita bisa replace styforoam dengan ampas tebu yang terdekomposisi dalam 90 hari. Lalu ada sedotan plastik dari pati jagung. Papercup dari pati jagung dan sendok makan dari bahan kayu yang biodegradable. Banyak produk lain yang temanya disposable plastik."

Yunanto Wiji Utomo Kantung plastik berbahan pati singkong buatan Avani Eco yang telah digunakan sejumlah hotel dan Garuda Indonesia.
Selisih Harga Sedikit, Dampak Besar

Pengembangan yang baik membuat bioplastik Avani Eco telah meraih sejumlah sertifikasi. Selain sertifikasi dari Institut Pertanian bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bioplastik Avani juga sudah mengantongi sertifikasi Oral Toxicity Test.

"Jadi produk ini tidak memberikan efek berbahaya bagi mamalia laut kalau terdampar di lautan. Kan sekarang banyak plastik mengendap di perairan, itu membunuh banyak hewan laut. Jadi bioplastik ini bukan hanya ini ramah lingkungan di atas tanah, tapi juga ramah bagi lautan," jelas Kevin saat ditemui Kompas.com, Sabtu (25/2/2017).

Ke depan, Kevin berambisi mendapatkan sertifikasi ASTM 1600. Untuk mendapatkan sertifikasi itu, bioplastik harus dapat terdegradasi dalam waktu 180 hari. Saat ini, bioplastik Avani Eco terdegradasi terlalu cepat, 133 hari.

Selisih harga bioplastik dengan plastik biasa hanya sedikit. Untuk produk kantung plastik, selisih harga Rp 200 - 3000. Sementara untuk sedotan, selisih harganya cuma Rp 80. Tapi, uang dalam jumlah sedikit itu bisa memberi dampak besar.

Kevin mengatakan, jika saja lebih banyak orang di dunia mau menggunakan bioplastik, maka kematian hewan laut dan akumulasi racun tak terduga akibat penggunaan plastik polystyrene dapat berkurang drastis. Pastinya, langkah 3R tetap perlu dilakukan.


Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X