Kelola Sendang, Kemitraan Konservasi ala Sumatera Selatan

Kompas.com - 08/09/2016, 22:20 WIB
Kebakaran, pembalakan, perambahan, dan perburuan satwa dilindungi merupakan ancaman terbesar di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang di batas Jambi-Sumatera Selatan. Keberadaan polisi hutan dari balai taman nasional setempat tidak memadai untuk mengamankan hutan gambut itu dari kerusakan. Penjagaan diperkuat dengan pelibatan masyarakat lokal sebagai tim patroli. Pelibatan itu hingga kini efektif mengamankan hutan. Tampak warga dan polhut balai TNBB yang tergabung dalam Tim Patroli Perlindungan Harimau (TPPU) bersama jurnalis tengah menyusur kawasan TNBS di Air Itam Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada April 2016. KOMPAS.com/IRMA TAMBUNANKebakaran, pembalakan, perambahan, dan perburuan satwa dilindungi merupakan ancaman terbesar di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang di batas Jambi-Sumatera Selatan. Keberadaan polisi hutan dari balai taman nasional setempat tidak memadai untuk mengamankan hutan gambut itu dari kerusakan. Penjagaan diperkuat dengan pelibatan masyarakat lokal sebagai tim patroli. Pelibatan itu hingga kini efektif mengamankan hutan. Tampak warga dan polhut balai TNBB yang tergabung dalam Tim Patroli Perlindungan Harimau (TPPU) bersama jurnalis tengah menyusur kawasan TNBS di Air Itam Laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada April 2016.
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com
– Belajar dari kebakaran hutan pada 2015, Sumatera Selatan merancang dan mengembangkan konsep baru dalam tata laksana lingkungan hidup berkelanjutan. Wujudnya, Kemitraan Pengelolaan Lanskap (Kelola) Sembilang Dangku (Sendang). Apakah itu?

“Restorasi hutan merupakan masalah yang dekat dengan jantung Indonesia,” ujar Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat, Senin (5/9/2016).

Berbicara di depan forum International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) World Conservation Congres (WCC) 2016, Alex menegaskan bahwa Sumatera Selatan merupakan rumah bagi beberapa hutan hujan.

“(Hutan hujan) dengan keanekaragaman hayati di dunia, lebih dari 10.000 spesies tanaman, serta merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana gajah, badak, harimau, dan orangutan secara alami ditemukan bersama-sama,” ungkap Alex.

Kebakaran hutan pada 2015, tutur Alex, melalap sekitar 700.000 hektar lahan dan hutan di wilayahnya. Dari sini, muncul kesadaran untuk mencegah peristiwa serupa terjadi.

“Kami kembangkanlah kemitraan multi-stakeholder untuk mengelola sumber daya alam yang tersisa, melalui program kemitraan dalam pengelolaan ecoregion dan landscape,” papar Alex.

Inilah pemikiran yang melatari kelahiran Kelola Sendang. Sebagai catatan, Sembilang dan Dangku adalah dua nama lokasi konservasi di Sumatera Selatan, yaitu Taman Nasional Sembilang di Banyuasin dan Hutan Suaka Margasatwa Dangku di Musi Banyuasin.

Paradigma baru

Menurut Alex, konsep tersebut merupakan paradigma baru dari manajemen lanskap yang berkelanjutan. Pelaksanaan konsep ini dilakukan dengan pendekatan terpadu, yang salah satu tujuannya juga turut mengurangi efek emisi gas rumah kaca.

Ke depan, skema konservasi tersebut diharapkan akan memberikan pula manfaat bagi masyarakat lokal sekaligus melindungi habitat dan spesies di taman nasional.

Dalam pelaksanaannya, Kelola Sendang melibatkan pula sejumlah lembaga non-pemerintah dan swasta. Di antaranya, sebut Alex, Asia Pulp and Paper (APP), IDH, GIZ, ZSL Inggris. NICFI, Dana CPO Indonesia, dan Belantara Foundation.

“(Lembaga dan institusi) yang memainkan peran utama dalam perlindungan hutan Indonesia dan peningkatan produktivitas serta penghidupan petani kecil atau masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan,” terang Alex tentang lembaga dan perusahaan tersebut.

Dok Pemprov Sumatera Selatan Gubernur Sumatera Selatan Alex Nurdin memaparkan konsep Kemitraan Pengelolaan Lanskap (Kelola) Sembilang Dangku (Sendang) di forum International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) World Conservation Congres (WCC) 2016 di Honolulu, Hawai, Amerika Serikat, Senin (5/9/2016).

Kelola Sendang, ungkap Alex, diinisiasi oleh Zoological Society of London dan didanai oleh Pemerintah Norwegia melalui Norwegia International Climate and Forest Initiative (NICFI) Pemerintah Inggris melalui Perubahan Iklim Satuan British Embassy UK (UKCCU) dan David and Lucile Packard Foundation.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X