Mengapa Kematian Satu Badak Sumatera di Kalimantan adalah Kehilangan Besar?

Kompas.com - 05/04/2016, 21:31 WIB
Badak sumatera remaja di Kalimantan yang ditemukan lewat kamera jebak pada 12 Maret 2016.  Badak itu mati pada Selasa 95/4/2016) karena infeksi. WWF IndonesiaBadak sumatera remaja di Kalimantan yang ditemukan lewat kamera jebak pada 12 Maret 2016. Badak itu mati pada Selasa 95/4/2016) karena infeksi.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Kematian Najag, satu-satunya badak sumatera di Kalimantan yang tertangkap fisik, menjadi duka bagi kalangan konservasi.

Bupati Kutai Barat, Ismail Thomas, mengatakan, “Saya sangat prihatin dengan kematian Badak Najag dan ini menjadi pelajaran bagi semua pihak dalam melanjutkan penanganan dan penyelamatan Badak-badak selanjutnya yang masih ada di Kutai Barat."

“Ini merupakan pelajaran berharga bahwa menyelamatkan satu badak saja sangat sulit, dan perlu dukungan  ahli dan sumber daya yang intensif,” ujar Efransjah, CEO WWF-Indonesia.

Satu kematian badak sumatera, satu-satunya spesies badak Asia bercula dua yang masih tersisa, berarti kehilangan besar bagi dunia.

Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia, Nyoman Iswarayoga, mengungkapkan, sebabnya adalah jumlah populasi badak sumatera yang sangat sedikit.

"Populasi badak sumatera diperkirakan di bawah 100 di dunia. Oleh karenanya, 1 individu pun bisa menciptakan populasi badak yang bertahan."

Ditemukannya Najag awalnya menjadi harapan akan kelanjutan subspesies badak sumatera di Kalimantan, Dicerorhinus sumatrensis harrissoni.

Badak sumatera di Borneo mulanya tersebar dari Kalimantan hingga Sarawak. Namun, tahun lalu, badak sumatera sudah dinyatakan punah di Sarawak.

Sejauh ini, di Kutai Barat saja, diperkirakan ada 8-20 badak sumatera yang tersebar di tiga kantung wilayah. Badak itu kini menghadapi tantangan karena ekspansi tambang dan praktik logging.

Najag ditemukan lewat kamera jebak pada Oktober 2015 lalu dalam kondisi terjerat tali. Pada 12 Maret 2016, Najag berhasil ditangkap secara fisik dan dibawa ke kandang sementara.

Kematian Najag diduga kuat akibat infeksi pada kaki akibat terjerat. Sejumlah upaya sudah dilakukan oleh tim dokter namun sayang, Najag menghembuskan nafas terakhir dini hari ini.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X