Kompas.com - 02/04/2016, 20:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnu Nugroho

Kesepian "membunuh"

Sementara mereka yang kurang berkomunikasi dengan baik dan cenderung kesepian akan menjadi kurang bahagia. Kesehatan fisiknya menjadi lebih cepat menurun, demikian pula fungsi otaknya menjadi berkurang serta membuat mereka menjadi sakit-sakitan dan berumur pendek.

Kesepian ternyata “membunuh”. Orang bisa saja kesepian di tengah-tengah keramaian atau juga dapat mengalami kesepian dalam kehidupan rumah tangganya. Hidup di tengah konflik adalah sangat berbahaya bagi kehidupan seseorang. Konflik juga sangat memudahkan mengantar orang menuju kesepian.

Penelitian ini juga membuktikan, kekayaan seseorang atau menjadi terkenal atau bekerja keras mengejar karier tidak merupakan jaminan seseorang itu akan berbahagia dan sehat serta berusia panjang.

Studi ini menekankan fakta bahwa hubungan baik dalam keluarga, dengan sahabat dekat dan dengan komunitas membuat seseorang menjadi bahagia, lebih sehat dan berumur panjang.

Dalam usia 50 tahunan, seseorang yang bahagia walau tidak bisa menghindar dari penyakit-penyakit degeneratif (kolesterol, asam urat dan sebagainya) yang dialaminya mereka tetap bisa menikmati hidup.

Mereka dapat menerima dan tetap mejalani hidupnya tanpa beban. Sebaliknya yang tidak atau kurang bahagia, penyakit degenaratif yang dialaminya akan bertambah parah dengan beban dari emosi pribadinya, antara lain sebagai akibat “kesepian” dan frustrasi yang dideritanya.

Dalam hal ini saya punya teman sebaya, dua orang yang harus menjalani cuci darah seminggu tiga kali. Teman yang satu adalah tipe orang yang kurang bergaul sementara teman satu lagi sangat gaul dan senang sekali “bercanda” dengan cerita-cerita lucu yang terkadang mentertawai dirinya sendiri.

Apa yang terjadi adalah, teman yang memang sudah kurang bergaul, dengan kehidupan harus menjalani cuci darah dua kali seminggu, segera menarik diri dari pergaulan dengan teman-temannya dan kemudian meninggal dunia setahun kemudian.

Sementara teman yang satu lagi hingga kini, sudah lebih dari 10 tahun, cuci darah dua hari sekali, tetap survive dengan canda dan tawanya yang keras.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Oh Begitu
Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.