Kompas.com - 03/02/2016, 15:00 WIB
Astronom asing beramai-ramai memotret Matahari yang sedang mengalami gerhana total di Bukit Dagi, sekitar Candi Borobudur, Jawa Tengah, 11 Juni 1983. ARSIP KOMPASAstronom asing beramai-ramai memotret Matahari yang sedang mengalami gerhana total di Bukit Dagi, sekitar Candi Borobudur, Jawa Tengah, 11 Juni 1983.
EditorAmir Sodikin

Oleh M Zaid Wahyudi dan Nawa Tunggal


Pengantar redaksi:
Menyambut gerhana matahari total 9 Maret 2016, harian Kompas menyiapkan liputan khusus seputar gerhana matahari dari berbagai aspek penyajian. Berisi ulasan teks, foto, dan infografis. Liputan khusus seperti ini akan diterbitkan setiap Rabu, yang dimulai hari ini Rabu (3/2/2016) di halaman 1, 24, dan 25 di koran Kompas. Liputan khusus akan hadir hingga gerhana tiba pada 9 Maret 2016. Sajian lengkap juga bisa dibaca dalam versi digital melalui print.kompas.com dan epaper.kompas.com. Selamat membaca.


Sejak peradaban manusia dimulai, pemandangan langit selalu menimbulkan rasa takjub dan perasaan diri yang kecil. Berbagai peradaban kuno memaknai keanehan fenomena langit, seperti komet, meteor, dan gerhana Matahari atau Bulan, sebagai pertanda petaka. 

Kini, aneka peristiwa langka itu justru diburu demi kepuasan hasrat ingin tahu manusia.

Dari berbagai keganjilan itu, gerhana Matahari dan Bulan yang paling banyak direkam manusia. Tak hanya karena keduanya sumber penerang pada waktu berbeda dan pemberi hangat Bumi, tetapi juga sumber energi dan penggerak kehidupan di planet biru.

Kekuatan Matahari dan Bulan membuat muncul keyakinan, menganggap dewa dan dewi yang memengaruhi nasib manusia. Keduanya sumber inspirasi pelukis goa pada masa prasejarah, pembaca mantra, penulis, pelukis, hingga sineas modern. Keteraturan kemunculannya jadi dasar perhitungan waktu. Mereka pula sumber romantisme dan inspirasi penggugah semangat nasionalisme sejumlah bangsa.

Namun, saat keteraturan dan sumber kehidupan itu terganggu, manusia masa lalu memaknai rusaknya tatanan kehidupan langit yang berdampak pada keharmonisan kehidupan Bumi. Kebetulan, gerhana sering menyertai berbagai peristiwa besar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

KOMPAS/PRIYOMBODO Untuk menyasikan gerhana matahari, dianjurkan untuk mengenakan kacamata pelindung khusus.
Catatan awal gerhana dari Tiongkok. Norma Reis dalam kumpulan tulisan di Famous Eclipses in History di astronomytoday.com menyebut raja menghukum dua astronom, Ho dan Hi, yang gagal memprediksi gerhana Matahari total (GMT) pada 22 Oktober 2137 Sebelum Masehi (SM) karena terlalu mabuk. Akibatnya, raja tak bisa menyiapkan penabuh tambur dan pemanah untuk mengusir naga tak terlihat yang memakan Matahari.

Adapun catatan tertulis gerhana tertua ditemukan di lempeng tanah bangsa Babilonia di Ugarit, Suriah kini. Para peneliti menyebut gerhana terjadi 3 Mei 1375 SM. Namun, penelitian T de Jong dan WH van Soldt di Nature, 16 Maret 1989, menunjukkan 5 Maret 1223 SM. Catatan itu tak hanya akurat, tetapi juga mencatat pengulangan gerhana yang dikenal siklus Saros.

Baca juga: Kegelapan Sesaat Sepanjang 16.000 Kilometer

Di Tanah Air, catatan gerhana muncul belakangan. Catatan relatif banyak untuk gerhana Bulan, tetapi sangat jarang untuk gerhana Matahari.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.