Kompas.com - 08/10/2015, 10:00 WIB
Ilustrasi lambung terasa penuh ShutterstockIlustrasi lambung terasa penuh
|
EditorLusia Kus Anna

Masalah psikologis terkait masalah lambung tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan sistem saraf otonom simpatis dan parasimpatis yang mempersarafi lambung. Secara embriologi otak dan lambung berhubungan erat satu sama lain. Hal ini tidak mengherankan karena sistem saraf enterik yang mensarafi lambung secara embriologi berasal dari bagian kepala saraf yang sama yang berhubungan langsung di otak.

Walaupun dalam perkembangan awalnya otak dan lambung arahnya berpisah, tapi ada jalur yang tetap mempertahankan hubungan saling mempengaruhi di antara keduanya. Tidak heran sistem saraf enterik ini sering disebut sebagai otak kecil. Salah satu hubungan antara lambung dan otak yang erat tergambar dalam gangguan saluran cerna fungsional.

Keluhan lambung pada pasien juga biasanya dikaitkan dengan proses motilitas atau pergerakan lambung saat ada atau tidak ada makanan, serta sensitifitas lambung. Kategori Rome II sebelumnya bahkan mengatakan bahwa tipe untuk gangguan lambung fungsional dikaitkan dengan gambaran gejala seperti nyeri ulu hati dan kembung.

Model pendekatan biopsikososial yang disarankan pada kasus lambung fungsional ini juga berkaitan dengan daya adaptasi pasien, faktor genetik bawaan, faktor lingkungan dan stres yang dihadapi pasien. Sehingga penanganan kasus-kasus lambung fungsional apalagi yang kronis memerlukan juga pendekatan psikologis untuk mengatasinya.

Pengobatan keluhan dasar

Di awal artikel saya menyatakan bahwa terkadang masalah gangguan cemas menjadi dasar dari keluhan lambung fungsional. Untuk itulah kita perlu untuk mengobati gangguan atau masalah dasarnya.

Beberapa minggu belakangan ini saya bertemu dengan beberapa pasien yang setelah menjalani pengobatan psikiatrik selama kurang lebih dua bulan untuk keluhan lambungnya, kondisinya saat ini sudah membaik. Pasien-pasien ini sebelumnya telah menjalani pengobatan gangguan lambungnya lebih dari 6 bulan bahkan ada yang tahunan tapi belum mencapai hasil yang maksimal.

Tentunya paling senang jika mendengar pasien mengatakan sudah bisa kembali makan makanan yang dulunya sangat dia hindari karena ketakutan akan sakit lambungnya tersebut. Masalah lambung fungsional yang biasanya memang tidak didasari oleh kelainan organ tetap membuat pasien takut untuk makan makanan yang merangsang atau keras.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa pasien bahkan dengan inisiatif sendiri makan makanan lunak seperti bubur atau nasi tim saja walaupun kenyataannya tidak ada perubahan dalam keluhannya.

Keluhan lambung yang berkaitan dengan problem masalah psikiatrik juga perlu penanganan yang khusus. Efek samping obat antidepresan yang sering dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan lambung makin membuat pasien ketakutan jika harus mengobati masalahnya dengan antidepresan.

Tentunya dokter dan pasien perlu saling memahami bahwa ada kondisi lain yang memicu hal ini. Selama saya menangani kasus gangguan lambung fungsional yang berkaitan dengan psikosomatik, syukurlah tidak pernah saya mengalami hal seperti ini.

Jadi jangan ragu untuk berobat ke psikiater jika mengalami masalah lambung fungsional yang terus menerus dan tidak ada hasil dari pengobatan yang telah dilakukan. Mungkin masalah lambung fungsional anda terkait dengan masalah psikosomatik. Semoga artikel ini membantu.

Salam Sehat Jiwa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.