Kompas.com - 30/10/2014, 16:20 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZESMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Pakar kelautan Institut Teknologi Bandung (ITB), Muslim Muin, membantah telah meremehkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti karena pendidikan dan penampilannya.

"Saya tidak pernah mencela pendidikan Susi yang (hanya sampai) SMP dan (karena dia) bertato," kata Muslim mengklarifikasi sejumlah komentar di media sosial yang menuduh dirinya melecehkan Susi Pudjiastuti.

Sebelumnya diberitakan, Muslim memandang pengangkatan Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan tidak tepat. Menurut dia, Susi memang sukses dalam mengembangkan industri pengolahan hasil laut serta transportasi antar-pulau. Namun, menurut Muslim, itu tak cukup. (Baca: Pakar Kelautan ITB: "Ngaco" Mengangkat Susi Jadi Menteri Kelautan dan Perikanan).

Muslim menambahkan, sejak dahulu, dia tidak setuju bahwa birokrat harus berpendidikan S-3. Gelar S-3 hanya dibutuhkan pada level akademis. Gelar S-2 sudah lebih dari cukup untuk seorang birokrat.

"Indonesia membutuhkan menteri KKP yang profesional di bidang kelautan selain perikanan. Itu alasan utama kenapa Susi tidak tepat menjadi menteri KKP," katanya kepada Kompas.com, Kamis (30/10/2014).

"Saya salut kepiawaian Susi dalam perikanan. Kritik saya sebetulnya klasik. Kelautan di KKP itu sangat terabaikan dibandingkan perikanan, padahal nama kelautan di kementerian ini berada di depan," imbuh Muslim.

Muslim mengajak publik untuk berpikir kembali. Dengan visi menjadi poros maritim, apakah cukup hanya memajukan perikanan tanpa berupaya mengembangkan kelautan dan teknologi yang terkait?

Lebih lanjut, Muslim menuturkan, "Saya merasa perlu ada kementerian yang fokus untuk pengembangan ilmu dan teknologi kelautan. Harapan saya sudah disampaikan waktu diundang jadi narasumber di Jenggala. Kelautan itu tidak ikan saja."

Muslim juga menegaskan bahwa dirinya sejak semula mendukung Jokowi dan visi misinya. Namun, ia merasa perlu menjadi pendukung yang kritis. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tidak bermimpi ataupun mengirimkan CV untuk menjadi menteri.




Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X