Pantau Tidur dengan Gelang Pemantau Kebugaran

Kompas.com - 03/02/2014, 10:41 WIB
Slashgear Nike Fuelband SE

KOMPAS.com - Belakangan kita saksikan bagaimana gaya hidup sehat dan hobi gadget menyatu dalam bentuk aplikasi atau gelang-gelang pemantau kebugaran (fitness trackers). Merek-mereknya pun beragam, dan semua bisa dihubungkan dengan aplikasi di telepon cerdas. Sebut saja jawbone up, nike+, fitbit, dan lain-lain.

Pada dasarnya, alat ini akan merekam aktivitas seseorang, terutama saat berolah raga. Ada laporan kecepatan, jarak yang ditempuh bahkan hingga perkiraan kalori yang dikeluarkan.

Yang menarik, seiring dengan bangkitnya kesadaran akan kesehatan tidur, laporan yang diberikan juga berupa durasi tidur, kecukupan tidur, bahkan merek tertentu memberikan laporan tahapan tidur. Berapa lama kita tidur dalam, atau berapa lama kita tidur ringan. Tapi benarkah laporan tersebut? Seberapa akurat?

Lewat tulisan ini saya akan coba ulas sedikit. Tulisan ini juga sebenarnya jawaban saya atas beberapa pertanyaan teman yang mengirimkan gambar laporan tidurnya lewat sosial media.

Gelang pemantau kebugaran

Sebenarnya, bagaimanakah gelang pemantau ini bekerja? Sensor utamanya bernama accelerometer, berupa sensor yang membaca gerakan. Setiap gerakan, kecepatan, arah dan jarak yang ditempuh direkam dan dilaporkan.

Berdasarkan gerakan dianggap dapat diprediksikan pula seseorang tidur atau tidak. Sementara beberapa produk memprediksikan kedalaman tidur berdasarkan gerakan, hingga dalam pelaporan kedalaman tidur dibagi menjadi tidur ringan.

Masalahnya, gelang-gelang ini kurang akurat. Gerakan manusia sepanjang tahapan tidur hampir sama. Tahapan tidur pun bukan hanya tidur dalam dan ringan saja.

Tidur manusia

Kedokteran tidur juga menggunakan teknologi accelerometer ini untuk melihat pola tidur, namanya actigraphy. Tapi alat serupa jam tangan ini pun hanya digunakan untuk melihat pola, bukan durasi tidur, terlebih tahapan tidur. Karena kita tahu accelerometer tak bisa diandalkan untuk melihat durasi tidur.

Untuk melihat tidur, kita harus melihat aktivitas gelombang otak saat tidur. Bukan itu saja, parameter lainnya adalah gerakan bola mata dan tegangan otot pada dagu. Untuk melihat semua ini, para ahli menggunakan alat pemeriksaan bernama polisomnografi atau biasa disingkat menjadi PSG.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorAsep Candra
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X