Kompas.com - 27/11/2013, 19:45 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Komet ISON yang kini tengah dalam perjalanan menuju titik terdekatnya dengan Matahari berpotensi menyuguhkan pemandangan langit yang menakjubkan. Namun, ada satu syarat yang harus dipenuhi, ISON harus bertahan dari panasnya Matahari.

Astronom sejauh ini masih sulit memprediksi nasib komet yang berpotensi menjadi yang paling terang dalam 50 tahun terakhir ini. Namun, setidaknya, ada tiga skenario nasib komet ISON. Tiap skenario bakal menentukan penampakannya.

Dalam percakapan dengan Kompas.com, Rabu (27/11/2013), astronom amatir Ma'rufin Sudibyo, mengungkapkan, skenario pertama adalah ISON akan bertahan dari badai Matahari sehingga berperilaku seperti biasa.

Sementara, skenario kedua, ISON terpengaruh badai Matahari, tetapi tak langsung menghancurkan. Penguapan air dan debu material komet akan sedikit meningkat tanpa disertai dengan kehancuran intinya.

Bila dua skenario itu yang terjadi pada ISON, komet dari Awan Oort itu akan tampak dari pandangan warga Indonesia pada Jumat (29/11/2013) menjelang fajar. Saat sampai pada titik terdekatnya dengan Matahari, ISON akan tampak cerlang dengan magnitudo -6 atau lebih.

Namun, bila skenario ketiga yang terjadi, di mana komet terhantam oleh badai Matahari dan intinya hancur, komet hanya akan memiliki magnitudo -1 atau -2 saat mencapai titik terdekatnya dengan Matahari. Dengan sendirinya, komet sulit teramati oleh warga Indonesia pada Jumat.

Menurut Ma'rufin, bila ISON nanti ternyata selamat, komet tersebut bahkan berpotensi tampak sepanjang hari. Memakai alat bantu berupa karton yang dilubangi, warga Indonesia bisa mengamatinya.

Meski demikian, diingatkan bahwa pengamatan harus dilakukan secara hati-hati. Lebih baik bergabung dengan komunitas astronom amatir setempat. Bila bertahan, ISON akan terletak sangat dekat dengan Matahari. Cahaya Matahari bisa merusak mata bila diamati secara langsung.

Komet ISON ditemukan oleh Vitali Nevski dan Artyom Nivichonok dari Rusia pada 21 September 2012. ISON disebut "baby comet" karena baru pertama kali datang ke Tata Surya dari tempat asalnya, Awan Oort.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes Budi Beberkan Upaya Tangani Stunting di Indonesia, Apa Saja?

Menkes Budi Beberkan Upaya Tangani Stunting di Indonesia, Apa Saja?

Oh Begitu
Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Oh Begitu
Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.