Kompas.com - 07/11/2013, 20:22 WIB
Ilustrasi Titanoboa cerrejonensis, beratnya mencapai 1,25 ton dengan panjang mencapai 12 meter. Daily MailIlustrasi Titanoboa cerrejonensis, beratnya mencapai 1,25 ton dengan panjang mencapai 12 meter.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Pada masa di mana Bumi mengalami pemanasan global di masa lalu, reptil adalah makhluk raksasa sementara mamalia makhluk kerdil. Perbandingannya, jika ular sebesar kuda, maka kuda hanya sebesar kucing.

Dalam konferensi ScienceWriter 2013 di Gainesville, Jonathan Bloch, paleontolog dari Florida Museum of natural History mengungkapkan bahwa jika emisi karbon terus bertambah dan Bumi makin panas, di masa depan, ular bisa menjelma jadi makhluk raksasa lagi, tumbuh sampai sebesar bus.

Bloch menilik kembali periode yang disebut dengan Paleocene-Eocene Thermal Maximum, sekitar 55 juta tahun lalu. Pada periode itu, Bumi mengalami pemanasan, temperatur global meningkat 6 derajat celsius dalam jangka waktu 200.000 tahun.

Pada masa itu hidup kura-kura spesies Carbonemys cofrinii. Analisis fosil mengungkap, kura-kura itu sangat besar, tengkoraknya mencapai 24 cm dan cangkangnya 172 cm. Selain itu, kura-kura itu juga punya rahang kuat, sanggup memakan buaya.

Pada lima juta tahun setelah punahnya dinosaurus, 60 juta tahun lalu, ada pula ular yang ukurannya sampai sebesar bus, bernama Titanoboa. Berat ular yang pada masa lalu hidup di Amerika Selatan itu mencapai 1,25 ton.

Sementara pada periode itu reptil meraksasa, pada periode pemanasan lain yang terjadi 53 juta tahun lalu, mamalia mengerdil. Hal itu dikatakan oleh paleontolog dari University of Michigan, Philip Gingerich.

"Fakta bahwa itu terjadi dua kali meningkatkan kepercayaan diri kita bahwa kita melihat sebab akibat, bahwa satu respons menarik dari pemanasan global adalah pengerdilan ukuran tubuh jenis mamalia," kata Gingerich seperti dikutip Daily Mail, Selasa (5/11/2013).

Gingerich mengatakan, mengecilnya ukuran tubuh merupakan respons alami mamalia pada peningkatan suhu. Peningkatan suhu menyulitkan mamalia mempertahankan suhu tubuh dan semakin sulit mencari makanan. Efek pemanasan global saat ini bagi mamalia di masa depan sebenarnya bisa ditebak.

Studi mengungkap, pada periode yang disebut Eocene Thermal Maximum 2 (53,7 juta tahun lalu) yang berlangsung selama 80.000 hingga 100.000, kuda mengerdil hingga hanya berukuran sebesar kucing.

Menurut Bloch, jika level karbon dioksida di Bumi terus bertambah, apa yang terjadi di masa lalu bisa terulang. Spesies ular super mungkin akan muncul. Entah apa yang akan terjadi pada manusia.

Bloch akan terus menggali beragam fosil untuk mengetahui bangkitnya spesies mamalia di masa lalu. Menurutnya, pemahaman tentang apa yang terjadi di masa lalu menjadi kunci persiapan menghadapi masa depan.

Bloch, seperti diberitakan NBC News, Selasa, mengungkapkan bahwa Bumi memang akan secara alami punya mekanisme untuk mengurangi karbon dioksida. Namun, akan lebih baik jika manusia juga bisa berperan.

Menurut Bloch, bila manusia mampu berperan, maka yang pasti manusia takkan merugi akibat pemanasan global. Peristiwa yang terjadi pada pemanasan global di masa lalu akan menjadi semacam panduan bagi manusia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

8 Manfaat Kesehatan dari Puasa Menurut Sains

Kita
Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X