Kompas.com - 29/10/2013, 19:38 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Ilmuwan menemukan apa yang dideskripsikan sebagai "dunia yang hilang" di wilayah paling utara Queensland, Australia. Mereka menemukan tiga spesies baru hewan bertulang belakang, termasuk spesies katak yang sering kawin di tengah hujan.

Spesies yang ditemukan, dua lainnya adalah tokek berekor daun dan skink berwarna emas, menurut para ilmuwan, telah terisolasi selama jutaan tahun di wilayah pegunungan terpencil di Cape York Peninsula.

Tiga spesies baru itu ditemukan dalam ekspedisi National Geographic pada bulan Maret 2013, dipimpin oleh Conrad Hoskin dari James Cook University dan peneliti Harvard University, serta fotografer National Geographic, Tim Laman.

Ekspedisi itu sendiri dilakukan di wilayah Cape Melville, timur laut Australia, di mana batu granit raksasa sebesar rumah dan mobil berserakan serta menjulang ratusan meter tingginya. Helikopter membawa Hoskin, Laman, dan tim ke wilayah itu.

"Menemukan tiga spesies vertebrata baru cukup mengejutkan di wilayah Papua Niugini yang belum banyak tereksplorasi, tetapi lebih mengejutkan di Australia, wilayah yang kita pikir sudah benar-benar tereksplorasi," kata Hoskin.

Penemuan tiga spesies yang benar-benar tampak berbeda itu akan dipublikasikan di jurnal Zootaxa.

Hoskin menuturkan, spesies yang diunggulkan dalam temuan ini adalah tokek berekor daun, bangsa kadal primitif yang merupakan simbol masa ketika Australia masih merupakan wilayah hutan. Tokek itu bisa tumbuh hingga 20 cm panjangnya.

Tokek itu adalah pemburu pada malam hari dan bersembunyi di balik batu kala siang. Kala malam, tokek itu diam dan menanti serangga dan laba-laba merangkak pada daun atau batu. Tokek itu punya mata besar dan tubuh ramping sebagai adaptasi atas lingkungan yang gelap.

Spesies tokek itu dinamai Saltuarius eximius. Hoskin menyadari kebaruan spesies itu begitu melihatnya.

"Katak berekor daun Cape Melville adalah spesies baru paling aneh yang datang ke meja saya selama 26 tahun bekerja sebagai herpetolog profesional. Saya ragu reptil lain seukuran ini dan seunik ini bisa ditemukan secara cepat di Australia lagi," papar Patrick Couper, kurator reptil dan katak di Museum Queensland.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.