Situs Gunung Padang Dibangun Empat Peradaban Berbeda

Kompas.com - 16/10/2013, 19:54 WIB
Batu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.   KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTOBatu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.
|
EditorWisnubrata


KOMPAS.com
— Riset arkeologis di situs Gunung Padang memunculkan dugaan bahwa situs tersebut dibangun oleh empat kebudayaan yang berbeda.

Arkeolog Universitas Indonesia yang tergabung dalam Tim Riset Mandiri Gunung Padang, Ali Akbar, mengungkapkan hal tersebut berdasarkan hasil penggalian ditambah analisis geologi terbaru hingga Juli 2013.

Diduga sebelumnya, Gunung Padang bukan sekadar gunung, melainkan juga menyimpan jejak peradaban berupa bangunan megah di dalamnya.

Berdasarkan hasil riset terbaru, Ali mengatakan bahwa Gunung Padang bukan hanya benar-benar menyimpan bangunan, melainkan juga menyimpan banyak peninggalan arkeologis dari empat peradaban yang berbeda.

Ada empat lapisan budaya yang terdapat di Gunung Padang. Masing-masing lapisan budaya terdiri atas batuan yang dipisahkan oleh lapisan tanah.

Lapisan budaya pertama terdapat hingga kedalaman 2 meter. Penelitian arkeologi dan penanggalan karbon yang didasarkan pada batuan di lapisan itu menguak bahwa lapisan budaya tersebut menunjukkan masa 500 Sebelum Masehi (SM).

"Lapisan budaya kedua umurnya lebih tua, bisa sampai 5.900 SM," ungkap Ali saat dihubungi Kompas.com, Rabu (16/10/2013).

Sementara adanya lapisan budaya ketiga dan keempat diungkap berdasarkan analisis tomografi, analisis yang didasarkan pada perbedaan cepat rambat suara ketika melalui medium yang berbeda.

Berdasarkan analisis tomografi, dikatakan ada ruangan bagian bangunan yang lebih tua, diperkirakan mencapai umur 10.000 tahun.

Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan bahwa hal tersebut bisa diketahui dari adanya zona dengan kecepatan suara rendah, merujuk pada adanya ruang kosong yang tak terisi batuan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X