Dikaji, Aplikasi Teknologi Antariksa untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Kompas.com - 02/09/2013, 21:26 WIB
Satelit LAPAN A-2 SkyrocketSatelit LAPAN A-2
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi aplikasi teknologi keantariksaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim didiskusikan dalam konferensi internasional "Integrated Space Technology Application to Climate Change" yang diadakan di Jakarta, Senin (2/9/2013).

Seminar diselenggarakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bersama United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA). Konferensi akan berlangsung hingga 4 September 2013 mendatang.

Juan Carlos Villagran dari UNOOSA mengatakan bahwa perubahan iklim telah memengaruhi berbagai segi kehidupan. Ia mengatakan, teknologi antariksa memiliki peluang untuk membantu mitigasi dan adaptasi dari perubahan iklim.

"Dengan teknologi antariksa, kita bisa mengetahui wilayah mana yang paling rawan terdampak perubahan iklim. Misalnya, dengan kenaikan air laut, mana yang akan paling terpengaruh," ungkap Villigran dalam konferensi pers.

"Dalam konferensi ini, kita akan mencoba mengidentifikasi apa saja yang mungkin dibantu dengan teknologi antariksa. Kita akan coba jajaki juga kemungkinan pilot project yang bisa dibuat nantinya," imbuh Villagran.

Kepala Lapan, bambang S Tejasukmana, mengungkapkan bahwa teknologi antariksa, seperti penggunaan satelit, sebenarnya telah dipakai untuk memantau beberapa parameter terkait perubahan iklim, misalnya kekeringan, kandungan gas rumah kaca di atmosfer, serta curah hujan.

"Kita memantau kekeringan dan curah hujan. Ini sangat berpengaruh juga dalam pertanian sehingga dari data yang dihasilkan kita bisa bicara tentang ketahanan pangan," kata Bambang. Hal lain seperti kenaikan muka air laut, suhu air laut, juga bisa dipantau.

Salah satu hal yang bisa dieksplorasi adalah pemantaan teknologi antariksa untuk mengukur stok karbon. Dipadukan dengan pengukuran kedalaman gambut, misalnya, teknologi antariksa mampu menganalisis luas lahan gambut dengan akurat dan memperkirakan stok karbon di wilayah itu.

Ke depan, yang bisa dijajaki adalah kerja sama pemakaian teknologi antariksa antarnegara. Indonesia sendiri akan terus meningkatkan kapasitas dalam teknologi antariksa. Tahun 2019, direncanakan Indonesia punya satelit nasional yang pengembangannya memakan dana Rp 2 triliun.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X